Sunday, November 18, 2007

LANTING RIWAYATMU KINI

Sunarningsih


Abstrak


Salah satu hasil sebuah proses adaptasi manusia terhadap lingkungannya adalah rumah lanting. Fase keberadaannya mulai berkeembang dan mencapai masa kejayaan pada saat sungai menjadi primadona transportasi di wilyah Kalimantan. Akan tetapi, seiring dengan terjadinya perubahan lingkungan, munculnya alternatife sarana transportasi lain, perubahan teknologi dan cara pandang masyarakat membuat rumah lanting mulai ditinggalkan.

Lanting is one of the result of environmental human adaptation processes. The existing phase of lanting begin to develop and reach the top when river become one of the mainstay transportation in Kalimantan. Furthermore, when the environment changed, another alternative transportation showed up, technology changed, and the view of some people changed, lanting has been leaved.


A. PENDAHULUAN

Dalam kehidupannya manusia membutuhkan tempat tinggal. Kebutuhan akan tempat berteduh tersebut merupakan kebutuhan primer. Sebagai wujud adaptasi manusia terhadap lingkungannya, muncullah berbagai bentuk tempat tinggal. Salah satunya adalah rumah lanting.

Rumah lanting adalah rumah yang digunakan sebagai tempat tinggal, keberadaannya terapung diatas air sungai. Rumah jenis ini banyak dijumpai di sepanjang sungai besar di wilayah Kalimantan. Dari dulu hingga sekarang bentuk rumah jenis ini tidak berubah, hanya jumlahnya saja yang semakin berkurang. Pada saat ini keberadaan rumah jenis ini sudah jarang ditemui. Semakin langkanya rumah lanting ternyata disebabkan oleh berbagai faktor. Hal tersebut sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut dalam tulisan ini. Mengapa lanting semakin tidak digemari dan ditinggalkan oleh masyarakat yang bermukim di sepanjang sungai di Kalimantan.


B. HUNIAN DI SEPANJANG SUNGAI

Seperti telah kita ketahui, bahwa wilayah Kalimantan di dominasi oleh lahan basah. Yang termasuk wilayah lahan basah meliputi rawa, hutan mangrove, terumbu karang, danau,muara, sungai, sawah, tambak, dan kolam garam. Wilayah Kalimantan sendiri banyak terdapat rawa dan sungai. Masyarakat pada masa lalu lebih memilih untuk membangun tempat tinggal di sepanjang sungai. Hal tersebut disebabkan mudahnya akses mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang rata-rata tergantung pada transportasi sungai. Dengan dikuasainya pembuatan Jukung/perahu, memudahkan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tempat tinggal yang dibangun masyarakat di sepanjang sungai terdiri atas dua bentuk rumah, yaitu rumah panggung dan rumah lanting. Rumah panggung berada di bibir sungai, sedangkan rumah lanting berada tepat di atas air sungai (pada bagian tepinya). Konstruksi yang digunakan antara rumah panggung dan rumah lanting sangat berbeda. Rumah panggung menggunakan beberapa tongkat yang cukup tinggi untuk menopang lantai rumah, sedangkan rumah lanting menggunakan gelondongan kayu yang disusun mendatar, dan susunan papan di atasnya yang difungsikan sebagai lantai. Rumah ini bisa dipindahkan, dan mengikuti ketinggian permukaan sungai. (foto 1)

Apabila dilihat dari arsitekturnya, pada perkembangannya rumah panggung lebih raya atau beragam, sedangkan rumah lanting cenderung statis bentuknya. Dari dulu hingga sekarang tetap sama. Faktor yang mempengaruhinya adalah kesulitan yang banyak dijumpai untuk dapat mengubah konstruksi dan arsitekturnya. Selain itu, tampaknya status sosial masyarakat yang memilih untuk berdiam di rumah lanting juga berbeda dengan masyarakat yang tinggal dirumah panggung. Rata-rata masyarakat yang memilih untuk tinggal di rumah lanting adalah para pedagang dan rakyat jelata.

Keberadaan lanting di atas sungai merupakan hasil adaptasi manusia terhadap lingkungan. Dengan kondisi air sungai yang stabil serta peranan sungai yang menjadi sarana transportasi utama, membuat manusia merasa diuntungkan untuk tinggal di atas sungai. Terlebih lagi kepemilikan seseorang terhadap wilayah di sungai tidak dibatasi. Tidak seperti halnya adanya peraturan kepemilikan tanah oleh seseorang yang dibuktikan dengan adanya surat segel/leter c, atau sertifikat. Masyarakat yang bermukim di sepanjang sungai tersebut dapat memiliki tanah yang berada di pinggiran sungai dengan hanya menggunakan ukuran lebar tanah saja, sedang panjangnya tidak diperhitungkan. Ukuran panjang tanah tersebut yang berada di atas sungai tidak dibatasi. Artinya bahwa mereka bisa mendirikan rumahnya dengan ukuran panjang sesuai kemampuannya.

C. PERUBAHAN SUNGAI DAN PERUBAHAN JAMAN

Wilayah Kalimantan banyak dialiri oleh sungai, baik sungai besar maupun sungai kecil. Apabila diamati, terlihat bahwa sungai besar yang ada di Kalimantan ini memiliki banyak anak sungai. Di wilayah Kalimantan Selatan sendiri dialiri oleh dua sungai besar, yaitu Barito dan Martapura dengan banyak sungai kecilnya. Menurut William Davis Morris (Geolog Amerika), sungai dan lembahnya ibarat organisme hidup, yang berubah dari waktu ke waktu. Sungai mengalami masa muda, masa dewasa, dan masa tua. Sungai yang masih bayi sempit dan curam, sungai muda lebih lebar dan anak sungainya bertambah, sedangkan sungai yang tua daerah alirannya semakin melebar dan berkelok-kelok. Tampaknya sungai di wilayah Kalimantan termasuk dalam kategori sungai yang sudah tua, karena lebar, berkelok-kelok, dan memiliki banyak anak sungai. (sumber: Internet)

Peranan sungai di Kalimantan sudah tidak diragukan lagi, yang pada masa lalu menjadi sarana transportasi yang sangat penting. Dengan topografi wilayahnya yang banyak terdiri atas hutan, sungai sangat membantu sebagai sarana manusia dari dan menuju tempat-tempat yang diinginkannya. Berbagai angkutan sungai dengan mudah dijumpai untuk mengantar masyarakat ke tujuannya masing-masing, dari jukung kecil, besar, speedboat, sampai kapal besar yang melayani trayek dengan jarak tempuh yang jauh. Kemajuan teknologi semakin memudahkan transportasi sungai tersebut, dengan menggunakan mesin sehingga tenaga manusia untuk mengayuh perahu tidak diperlukan lagi.

Keberadaan sungai sangat membantu kehidupan masyarakat di sekitarnya, di samping sebagai jalur transportasi, sungai juga menjadi penyedia sumber air dan sumber hewani yang berupa ikan air tawar. Keberadaanya menjadi sangat penting untuk kehidupan manusia di sekitarnya. Banyak manusia yang sangat menggantungkan kehidupannya pada keberadaan sungai-sungai tersebut. Bahkan masyarakat yang tidak bertempat tinggal disungai tersebut juga menggantungkan hidupnya pada sungai. Misalnya saja para pengusaha kayu, yang sangat membutuhkan sungai untuk mengirimkan hasil tebangan kayu, para pencari emas yang sangat menggantungkan air untuk memisahkan emas dari materi tanah lainnya.

Sayang sekali bahwa manusia tidak bisa menjaga kelestraian sungai tersebut, meskipun sungai sudah memberi banyak hal bagi kehidupan manusia. Sehingga pada akhirnya sungai juga menjadi ancaman yang serius bagi kehidupan masyarakat baik di sekitarnya maupun yang relatif jauh darinya. Hal tersebut disebabkan adanya perubahan jumlah dan kecepatan air yang mengalir di sungai tersebut. Bencana banjir akhir-akhir ini tampaknya setia mengunjungi wilayah Kalimantan. Kondisi tersebut setiap tahun tidak juga mereda tetapi semakin parah. Kerusakan hutan adalah salah satu penyebabnya. Tercatat ada empat DAS (Daerah Aliran Sungai) di Kalimantan yang semakin kritis, semuanya merupakan sungai besar, yaitu Sungai Kapuas, Sungai Mahakam, Sungai Kahayan, dan Sungai Barito. Menrut informasi yang didapatkan dari surat kabar, keempat DAS tersebut sudah seharusnya mendapat prioritas utama untuk direhabilitasi, akibat sebagian DAS sudah tidak berhutan lagi karena mengalami deforestasi hebat lebih dari 30 tahun terakhir. Oleh karena itu, ekosistemnya rusak, dan sebagian anak sungainya mengalami pendangkalan dan pencemaran akibat penggunaan merkuri dalam kegiatan penambangan emas tanpa ijin, dan limbah rumah tangga.


D. RUMAH LANTING DAN PERMASALAHANNYA

Pada masa lalu, lanting sebagai rumah terapung pernah berjaya. Hal tersebut masih dapat terekam pada abad ke-18 dan 19, dimana perairan di wilayah Kalimantan umumnya dan wilayah Banjarmasin pada khususnya masih banyak berderet rumah lanting di atas sungai Martapura. Penataan lanting tersebut bahkan disebutkan dalam berita Cina dari Dinasti Ming (1618), bahwa di Banjarmasin terdapat rumah di atas rakit seperti yang ada di Palembang (Kompas, 12 Nov 2004, hlm 33). Dukungan sungai terhadap keberadaan lanting tersebut maksimal, begitu juga dengan kondisi kehidupan masyarakat pada waktu itu sangat mendukung.

Wilayah Banjarmasin yang pada waktu itu sudah menjadi kota pelabuhan dan perdagangan sangat membantu masyarakat yang tinggal dalam rumah lanting untuk tetap eksis. Memang rata-rata para pedaganglah yang memilih untuk tinggal di atas rakit tepat diatas sungai Martapura. Keberadaan mereka diatas sungai sangat menguntungkan dalam kegiatan perdagangan pada waktu itu, karena sungailah yang menjadi jalur transportasi yang utama. Setiap hari masyarakat berpindah dari hilir ke hulu dan sebaliknya dengan menggunakan transportasi sungai.

Selain keuntungan secara ekonomi, ternyata masih ada keuntungan lain yang bisa di dapatkan dengan keberadaan lanting di atas sungai. Rumah lanting bisa menjadi penghambat laju arus sungai sehingga mampu menahan banjir.

Akan tetapi seiring dengan perubahan jaman dan kemajuan teknologi, lanting semakin susah untuk dapat tetap eksis di atas sungai-sungai di Kalimantan. Hal tersebut disebabkan beberapa hal, baik karena faktor alam, masyarakat pengguna maupun para pejabat (pemerintah daerah). Kondisi sungai saat ini kurang mendukung keberadaan lanting, karena pada musim kemarau airnya menjadi dangkal. Hal tersebut berkaitan dengan dampak rusaknya ekosistem hutan di wilayah Kalimantan, sehingga air sungai akan surut pada musim kemarau, dan sebaliknya akan terjadi banjir pada musim hujan. Kondisi hutan yang rusak karena kayunya ditebangi tanpa upaya untuk menggantinya selain menyebabkan banjir juga menyebabkan naiknya harga kayu yang menjadi bahan baku pembuatan lanting. Kayu gelondongan yang dipakai untuk menyangga rumah rakit saat ini sudah sulit didapatkan dan mahal harganya. Kondisi tersebut mengakibatkan orang akan berpikir dua kali lipat guna membangun rumah lanting. Kelangkaan dan kemahalan kayu juga menyebabkan biaya untuk memperbaiki rumah lanting yang masih ada menjadi tidak terjangkau oleh masyarakat, yang rata-rata termasuk orang miskin, yang saat ini masih tetap bertahan hidup di rumah lanting. (foto 2)

Perubahan tingkah laku masyarakat untuk lebih menyukai bangunan di darat dimulai sejak masa kolonial mengumpulkan mereka untuk membuat rumah di sepanjang jalan darat yang mulai dirintis. Hal tersebut pada awalnya ditujukan untuk kemudahan kolonial melakukan pengawasan terhadap setiap kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat. Seperti telah kita ketahui, masyarakat Kalimantan, dalam hal ini masyarakat Banjar sangat tidak menyukai bangsa Belanda. Perlawanan terhadap Belanda yang sangat gigih dilakukan yang terkenal dengan Perang Banjar. Sejak Belanda dapat menguasai wilayah yang banyak dihuni oleh masyarakat Banjar tersebut, sungai tidak lagi menjadi satu-satunya sarana transportasi. Selanjutnya setelah mIndonesia merdeka, pembangunan yang berorientasi ke darat lebih gencar lagi dilakukan. Bahkan tampak sekali bahwa keberadaan sungai seakan dilupakan. Dengan demikian wilayah Banjarmasin yang dulunya adalah lahan rawa, pada saat ini sudah tidak tampak lagi, hampir semua telah tertutup olah gedung yang terbuat dari beton baik yang bertingkat maupun tidak. Kondisi sungai menjadi sangat memprihatinkan, semakin sempait, tercemar dan tidak lagi indah dipandang mata. Demikian juga dengan keberaadaan rumah lanting, hanya masyarakat kecil saja yang masih bertahan di tempat sungai yang masih terhitung lebar dan airnya lumayan banyak. Rumah lanting tersebut tampaknya seolah menambah kumuhnya kondisi sungai. Hal tersebut didukung oleh bentuknya yang terlihat jauh berbeda dengan gedung-gedung yang berdiri megah di sekitarnya. Di samping kebiasaan penghuninya yang kurang memperhatikan kebersihan lingkungan. Meskipun gedung beton sudah berdiri megah, ada satu hal yang tidak bisa ditinggalkan oleh masyarakat, yaitu tetap menggunakan sungai sebagai jamban dan mck (mandi cuci kakus) mereka sehari-hari. Gambaran yang sangat kontras tersebut dapat kita amati pada saat pagi hari dan sore hari di sepanjang sungai yang mengalir membelah kota Banjarmasin dan kota lain di wilayah Kalimantan. Kota lain tersebut adalah Pontianak. Pembangunan yang gencar dilakukan semenjak masa orde baru, yang modelnya banyak meniru pembangunan di Jawa. Padahal pada masa Belanda, Pontianak seperti halnya Banjarmasin juga dibangun sebagai kota baru yang mengadopsi system pembangunan kanal-kanal seperti di negeri Belnda. Sistem kanal digunakan untuk mengantisipasi banjir. Pada 30 tahun lalu di kota Pontianak masih dapat dijumpai parit-parit yang cukup lebar misalnya di Jalan Merdeka. Akan tetapi kondisinya pada saat ini sangat memprihatinkan. (Kompas tgl 12 Agustus 2003, hlm. 30) Kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan di Banjarmasin. Pada saat ini sisa parit Belanda yang masih bisa diamati adalah di sekitar Masjid Sabilal Muhtadin, tetapi parit tersebut tidak berfungsi dengan baik karena tampak hanya berhenti di tempat tersebut, sambungan ke wilayah lain sudah tertutup bahkan hilang. Oleh karena itu setiap tahun Banjarmasin selalu menjadi langganan banjir.

Dari gambaran di atas, tampak bahwa kepedulian masyarakat terhadap kelestarian sungai sangat kurang. Kondisi tersebut dalam kenyatannya juga diperparah dengan sikap yang tidak tegas dari pemerintah baik dalam pengelolaan hutan maupun pengelolaan sungai. Rumah lanting yang pada masa lalu pernah menjadi primadona rumah di atas sungai semakin tidak mendapat tempat. Dengan munculnya Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur tentang pelarangan bersandarnya rumah lanting di Kabupaten Murung Raya dan Barito Utara, Kalimantan Tengah menjadi salah satu contoh, semakin menggusur keberadaan rumah lanting di wilayah Kalimantan.Dengan diberlakukan perda tersebut maka dengan terpaksa 24 warga yang tinggal dirumah lanting berusaha untuk menjual rumah mereka ke wilayah Alalak, Banjarmasin, Kalimantan Selatan dengan menyusuri Sungai Barito sepanjang 620 km. (Kompas tgl 29 April 2007, hlm 2) Rumah lanting tersbut dijual kepada pengusaha kayu yang banyak berada di wilayah alalak. Selanjutnya kayu-kayu tersebut akan diolah lagi sebagai bahan pembuat perabot rumah tangga.


E. PENUTUP

Dari uraian di atas tampak bahwa keberadaan lanting mulai ditinggalkan oleh masyarakat di Kalimantan disebabkan oleh beberapa faktor. Perubahan tersebut termasuk dalam sebuah proses yang dialami oleh sebuah masyarakat yang hidup berdampingan dengan sungai. Keberadaan rumah lanting bisa diidentikan dengan hasil budaya yang bersifat tradisional yang berkembang sebelum memasuki fase modern. Adanya proses bahwa masyarakat tidak lagi menyesuaikan diri terhadap alam di sekitarnya, tetapi masyarakat sebaliknya mulai menyesuaikan lingkungan kepada dirinya menyebabkan mulai hilangnya keberadaan rumah lanting.

Hanya saja dalam proses penyesuaian lingkungan kepada diri masyarakat, banyak mengabaikan nilai-nilai kearifan yang seharusnya tetap dipertahankan. Nilai kearifan itu sendiri akan sangat menguntungkan bagi kehidupan selanjutnya. Oleh karena itu, harus dimulai untuk kembali menyeimbangkan ekosistem yang ada di sepanjang DAS yang berada di Kalimantan ini, sehingga harmonisasi akan tetap terjaga, meskipun fase modernisasi telah jauh merasuki kehidupan masyarakat.

Meskipun demikian pada saat ini kita masih dapat melihat keberadaan lanting tersebut di beberapa titik tempat, yaitu di Lokbaintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar; di Muara Kuin dan Muara Mantuil, Banjarmasin. Rumah lanting di wilayah tersebut dimanfaatkan sebagai toko terapung. Mudahan keberadannya masih dapat terjaga dan lestari.
DAFTAR PUSTAKA

Daud, Alfani. 1997. Islam dan Masyarakat Banjar; Diskripsi dan Analisa Kebudayaan Banjar. Jakarta: Rajawali Press.

Irianto, Gatot. 2006. Pengelolaan Sumberdaya Lahan dan Air Strategi Pendekatan dan Pendayagunaannya. Jakarta: Papas Sinar Sinanti.

Seman, H.M. Syamsiar & H. Irhamna. 2006. Arsitektur Tradisional Banjar Kalimantan Selatan. Banjarmasin: Lembaga Pengkajian & Pelestarian Budaya Banjar Kalsel.

Sodikin, Amir. Lanting, Rumah Terapung Warisan Peradaban Banjar, Harian Kompas, tanggal 12 November 2004, hlm. 33

Syaifulloh, M. Merangkl Alam Sebelum Terlambat, Harian Kompas, tanggal 12 Agustus 2003, hlm. 30.

______________ Pembabatan Hutan, DAS Empat Sungai Besar di Kalimantan Makin Kritis. Harian Kompas tanggal 31 Oktober 2007, hlm 23.

------------------------. Industri perkayuan. Perda Menggusur Rumah Apung di Tepian Sungai Barito. HArian Kompas, tanggal 29 April 2007, hlm. 2.

Van Peursen, C.A. 1992.Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Tuesday, November 13, 2007

SAPUNDU: MORTUARY POST ON THE SERANAU AND CEMPAGA RIVER BASINS

Vida Pervaya Rusianti Kusmartonoz

Abstract

Sifat sosial manusia dalam lingkup kegiatan kematian secara umum adalah upaya mengingat orang yang meninggal. Salah satu cara adalah membuat tanda-tanda yang mencirikan atau mengingatkan ‘yang masih hidup’ akan si mati. Salah satu contoh nyata pembuatan tanda-tanda kematian dilakukan oleh masyarakat Ngaju di Kalimantan Tengah yang masih memiliki keyakinan Kaharingan yang kuat dengan upacara kematiannya, Tiwah. Pada masyarakat Ngaju di Daerah Aliran Sungai Seranau dan Cempaga, kegiatan kematian selalu diiringi dengan pendirian sapundu. Fungsi utama sapundu adalah tiang penambat binatang yang akan dikurbankan dalam Tiwah. Namun, ternyata sapundu memiliki makna sosial-religius yang lebih luas daripada fungsi teknisnya sebagai sekedar tiang tambat kurban. Terdapat beberapa jenis, fungsi dan makna sapundu yang dapat diidentifikasi berdasarkan sifat, orientasi dan lokasi penempatan sapundu. Tulisan ini akan membahas karakteristik sapundu pada Daerah Aliran Seranau dan Cempaga yang ditinjau dari aspek dimensi, pose, gender dan ornamen, serta orientasi.

Keywords: mortuary, death, Ngaju, Kaharingan, tiwah, sapundu kurban, sapundu gapit, culture

A. Introduction
Mortuary behaviour of any given society depends on its social and cultural complexity. O’Shea (1984:4) quotes Binford (1971:225-231), and McHugh (1999:4) quotes Saxe (1970:75), to the effect that the more complex a society is, the more diverse will be the manifestation of its mortuary system. Nevertheless, as with many other aspects of culture, Mytum (2004:145; O’Shea 1984:30; Pearson 2003:28) suggests that mortuary behaviour possesses a dynamic quality that tends to change, yet retain its potent attributes. These factors provide the foundation that supports the interpretation of various tangible mortuary manifestations within a society. O’Shea (1984:39-41) proposes six categories for analysing mortuary variation. Among his categories, the one relevant to the present study is the mortuary facility, which comprises the physical attributes of the mortuary repository including its paraphernalia.

Mortuary repository on the Seranau and Cempaga River Basins (Figure 1) is established by the Ngaju, who persist on performing their mortuary practices until today with reference to their belief system, the Kaharingan, and concepts of the afterlife. The mortuary repository, the sandong[1], is the most important element marking the climax of mortuary ritual of the Ngaju. However, its paraphernalia, which consist of sanggaran[2], pantar[3] and sapundu[4], are no less important than the repository itself. The Ngaju on the Cempaga River Basin usually erected sanggaran to signify the end of the use of sandong[5]. The pantar is not employed by the Seranau and Cempaga Ngaju. On the other hand, sapundu are always found in association with existing mortuary repository.

My observation on their mortuary behavior indicate that sapundu is created simultaneously with and to complement the establishment of sandong. The Ngaju recognize two kinds of sapundu i.e. sapundu gapit[6] and sapundu kurban[7]. The forms of sapundu gapit and sapundu kurban are reasonably the same with human figures sculpted on top of posts; however, they differ in their spatial arrangements. The sapundu gapit are erected immediately next to the sandong, while the sapundu kurban is either left at its original place for tiwah or moved to the burial grounds relatively far from the sandong. By and large each type of sapundu has its own significance portraying the belief system and concept of the afterlife. This article discusses the characteristic of sapundu on the Seranau and Cempaga River Basins to understand the mortuary behavior of the Seranau and Cempaga Ngaju in regard to dimension, poses and hand position of the figures, gender and decoration, and orientation.

B. Seranau and Cempaga River Basins
The Seranau and Cempaga River Basins are tributaries of the Mentaya River that cuts through Kabupaten Kotawaringin Timur, flowing south to the Java Sea. Both river basins lie on a topographical setting of periodically wet lowland. The Seranau flows northeastward from the northwest, and the Cempaga southward from the north. During the monsoon season the Seranau River floods inland, while the Cempaga River does not. In the dry season, both rivers subside, exposing a broad expanse of dried-mud riverbank. On each river are located villages of the Ngaju: the Keleka[8] Natay Kunang and Tanah Putih[9] on the Seranau River Basin, and Keleka Nahan Biru and Bukit Batu[10] on the Cempaga River Basin.

The Kelaka Natay Kunang and Keleka Nahan Biru are abandoned settlements, which have been archaeologically investigated in 2004. The ethnohistory of both abandoned villages suggests that they belonged to the ancestors of the inhabitants of the new nearby villages, the Tanah Putih and Bukit Batu. Keleka Natay Kunang and Keleka Nahan Biru were investigated due to their characteristic as have been unoccupied for 50 to 100 years. The contemporary Tanah Putih and Bukit Batu were selected because they contain both old --approximately between 1816 and 1948-- and new mortuary facilities, particularly sapundu.

1. Sapundu on the Seranau River Basin
The Keleka Natay Kunang Sapundu are found in an environment of cultivated rain-fed rice, tubers and timber species such bamboo, jack fruit, ulin[11] (Mackinnon 1997:130), rattan and rubber trees. Two clusters of sapundu were found 217 meter apart separated by a relatively small river, the Raku, which flows northeast and joins the Rinjau and eventually the Seranau River (Figure 2). Each cluster of sapundu is associated with a sandong. The first cluster is the paraphernalia of Sandong Marotan, which can be reached on foot from the Pangkalanbun-Sampit Highway north-westward for one and a half hour on foot. The second cluster belongs to Sandong Rami, which is reached another half hour from Sandong Marotan across the Raku River.

The Tanah Putih Sapundu are found in a contemporary village environment of vegetation of economic trees[12] and bordered by cultivation to the north and east. On the northeastern village periphery are found two groups of tajahan[13]. The first group, Tajahan Antang, is claimed by the villagers as the original village boundary marker established simultaneously with the village, while the second is new. There are five clusters of old sapundu in Tanah Putih, which belong to sandong: Julak Jawa, Sri Saong, Nyi Goebang, Tihin Bahen and Nawa Goebang.

a. Marotan Sapundu
The Marotan Sapundu consists of two varieties of sapundu i.e. sapundu gapit and sapundu kurban. There are three sapundu gapit (SG) that stands aligned with the sandong facing northwest to the Raku River in a northeast to southwest line, in the following order: SG1, SG2 and SG3 (Plate 1). The Marotan sapundu gapit consists of two female statues and one male. SG1, located on the northeastern most line, is depicted as a bare-chested female standing upright with an exposed large belly, clad in a knee-length sarong, with arms hanging down each side of the body and both hands holding a small rectangular box below the belly. SG2, located to the southwest of SG1, has the same characteristics as SG1, except for its rather crooked arms and flat belly. SG3, stands to the southwest of SG2, is carved as a human male in an upright position, apparently bare-chested, clad in a knee-length sarong with both hands holding a small rectangular box in front of its belly. About 100 cm southwest of SG3 is found a hole assumed to have supported another sapundu. All sapundu gapit are highly weathered, showing splits in the wood. The ornamentation found on the posts of SG2 and SG3 are notches of tetat[14] and cacak burung[15].

The sapundu kurban is a post of 3.30 meters in height, of which the upper part has been sculpted as a human figure standing upright with bulging chest, yet without indications of female gender. It stands 6 meters northwest of SG1, extremely weathered and the head is badly fractured. Approximately 4-12 meters to the northeast and east of the cluster sandong and sapundu were found eight house posts, 125-160 cm high and extremely weathered. Their positions are irregular, making it impossible to determine the actual size and orientation of the original house. However, the orientation must have been toward the river, as was the custom in the past since guests were always anticipated by river.

b. Rami Sapundu
The Rami Sapundu consists of six sapundu gapit and one sapundu kurban. Besides sapundu, a sanggaran is also found among this cluster. The sandong, four sapundu gapit and sanggaran are aligned northeast to southwest, facing southeast to the Raku River. The two other sapundu gapit and the sapundu kurban are found in a row parallel to the four previous sapundu gapit, and 4.5 meters in front of them. All figures carved on the sapundu gapit are weathered.
To the southwest of Sandong Rami were found of two sapundu gapit, each crowned by a female figure (Plate 2). The one (SG1) fartest to the sandong is depicted standing with its hair styled in a bun, upright torso, apparently bare-chested and clad in a sarong, with both hands on the chest, a rectangular box on the lower belly, and slightly bent legs. The other female sapundu gapit (SG2), closer to the sandong, is more weathered but similar to the first, except that the hands are placed on each side of the box and the upper part of the head is damaged. The post of SG2 is slightly carved out in two opposite places leaving long vertical marks, which between them are found tetat notches.

To the northeast of Sandong Rami stand two more sapundu gapit. The one closer to the sandong, SG3, is highly weathered, and topped by a female figure with the same characteristics as those above. The fourth sapundu gapit (SG4) stands approximately 1 meter northeast of SG3, and is topped by an upright male figure. It is also highly weathered, but the surface texture of the figure shows lines suggestive of the edges of a shirt, trousers, and a cap. 4.5 meters to the east of Sandong Rami stands a 2.79 meters high sapundu kurban facing the Raku River -an upright male figure with a damaged face and rather bent arms dangling on each side of the body. It is depicted wearing a shirt, trousers and shoes; there are no other traces of ornamentation. 5.8 meters northeast of the sapundu kurban stands the fifth sapundu gapit (SG5), its wooden figure hacked by looters leaving only a 1.00 meter high undecorated post. 7 meters southwest of the sapundu kurban stands another hacked sapundu gapit (SG6).
3.2 m to the north of SG4 were found two house posts. About 4.5 m to the north of theses stand another four house posts of diverse heights. The first, closest to the SG4, is tall compared to the other five and has a rectangular perforation to take a horizontal beam to support a raised platform.

c. Julak Jawa Sapundu
The Julak Jawa Sapundu consists of two short sapundu gapit, erected in front of the sandong and aligned with it, set 50 cm apart facing northeast to the Seranau River. The northwestern sapundu gapit is male and the southeastern is female. The male sapundu gapit is sculpted erect with straight face, upright torso, and slightly bent arms dangling on each side (Plate 3). The female sapundu shows the same general characteristics with additional protruding earlobes, exposed breasts and a large belly. Both statues are very weathered, especially their heads, and supposedly each is clad in a sarong. 50 cm southeast of the female sapundu gapit is a hole that might have supported another sapundu.

d. Sri Saong Sapundu
The Sri Saong Sapundu consists of two male sapundu gapit (SG1 and SG2) that stand on the northern side of Sandong Sri Saong, and two female sapundu gapit (SG3 and SG4) on the southern side. They are all facing northeast to the Seranau River, painted in white and yellow, and are in relatively good condition. However, unlike the Julak Jawa Sapundu, these sapundu are attired in clothing of recent style. The northernmost male sapundu gapit (SG1) is depicted wearing a long sleeved shirt, trousers, a pair of shoes, and holds a rectangular box in front of his stomach possibly a betel leaf container or a musical instrument. The second male (SG2) is similarly depicted, but wears shorts and a kopiah (an Indo-Malay cap).

The most northerly female sapundu gapit (SG3; Plate 4) wears a long sleeved blouse, an ankle-length sarong, and shoes. She holds a rectangular container in front of her stomach. The second female sapundu gapit (SG4) wears a short-sleeved blouse, a knee-length skirt, and shoes. Her hands are by her sides. Both female sapundu gapit have their hair fashioned in a gelung[16]. The posts of all sapundu gapit are notched with tetat.

e. Nyi Goebang Sapundu
The Nyi Goebang Sandong is accompanied by only a sapundu kurban, which stands approximately 19 m to the northeast across the present village road, facing northeast to the Seranau River (Plate 5). The sapundu kurban is crowned with a male wearing an Indo-Malay attire of a long sleeved shirt, slacks, and a knee-length sarong. The wooden statue is depicted in a dynamic stance with probably a pair of terompah (open heeled sandals), and on its head is placed a gong. The heirs claimed the gong was played in the death ceremony for Nyi Goebang. The lower part shows a number of plain vertical grooves carved in slight relief.

f. Tihin Bahen Sapundu
The Tihin Bahen Sapundu are found erected on the north and south side of the sandong. The human figure on the northern one (SG1) is in a sitting position and wears trousers, presumably a male, with its torso damaged. The southern one (SG2) is standing, clothed in a knee-length sarong, presumably female, also with a damaged torso. Both figures have their arms at their sides, and the hands are placed upon the abdomen. The lower parts of both sapundu posts show a row of tetat notches.

g. Nawa Goebang Sapundu
The sapundu gapit of Sandong Nawa Goebang are aligned north-south facing the Seranau River: one male (SG1) on the northern side and three on the southern side of the sandong, comprising two female figures and one male. All sapundu are sculpted in an upright stationary position. SG1 is depicted as a fully attired male figure wearing a kopiah with hands dangling on each side of the body. On its post are found tetat notches. The most northerly sapundu gapit (SG2) on the southern side is depicted as a bare-chested female figure clad in a sarong and holding a rectangular container in front of her stomach. The next male figure (SG3) wears a kopiah, and possibly a long sleeved shirt and trousers (the carving is weathered). The most southerly female (SG4) is highly weathered, making it difficult to describe her attire. However, it is presumed to be identical to SG2.

2. Sapundu on the Cempaga River Basin
The study area of Keleka Nahan Biru Sapundu is on top of a small hill covering a land of 3,500 square meters overgrown with thick immature prickly rattan. A lumberyard of a sawmill company borders Keleka Nahan Biru to the north and south, and there is a forest of ulin, rattan and rubber to the west. To the east lies the Cempaga River (Figure 3), while cultivations lie beyond the trees to the west. The locals inform a cluster of hampatong[17] was erected to mark the establishment of Keleka Nahan Biru and to mark the southern boundary of the village. Presently, this cluster of hampatong is nowhere to be found. A cluster of nineteen sapundu gapit and one hole, which might be a sapundu hole, were found in this site[18], all facing east towards the Cempaga River; these nineteen sapundu gapit are paraphernalia of Sandong Nahan Biru-1 (NB1) and Nahan Biru-2 (NB2).

The Bukit Batu Sapundu are found in a contemporary village on a small mound next to the present Christian cemetery located to the rear (west) of the village, which is presently across the Kasongan-Sampit Highway. The Bukit Batu Sapundu is a cluster of three sapundu gapit which to the old Sandong Sendung Timbang[19].

a. Nahan Biru Sapundu
Among the nineteen Nahan Biru Sapundu, nine sapundu gapit are arranged in an uneven row to the north of NB1. Three others are standing unevenly in front of the first row to the northeast of NB1 and one in front of NB1. Five others stand irregularly between NB1 and NB2, and one was found 11 meters southeast of NB2. Every sapundu gapit is highly weathered, and 8 could not be identified due to weathering or damage by looters. Among the 11 identifiable sapundu gapit there are 8 female and 3 male figures. The females are identified by their knee length sarong, and the males wear slacks. However, there is one male figure depicted fully attired and holding a supposedly small wine jar, SG17 (Plate 6).

Eight figures are identified as sculpted in upright positions: SG1, SG7, SG8, SG11, SG12, SG15, SG16 and SG17, and five figures identified in sitting position: SG2, SG4, SG5, SG6 and SG14. Four female figures each holds a rectangular box: SG2, SG5, SG14 and SG15, and one male figure (SG6) has its hands on each side of the body. Seven posts have been vertically carved out on their north and south sides (SG2, SG4, SG5, SG6, SG7, SG8 and SG16). Tetat notches are found on SG2 and SG3, while a row of tetat and cacak burung is found on SG6, SG7, SG8, SG9, SG12, and SG16.

There are three damaged sapundu gapit: SG10, to the north of NB1 engraved with a devilish face with a protruding tongue pointing to the north; SG13, between NB1 and NB2 without any decoration; and SG19, to the far southeast of NB2 carved with symmetrical fern fronds and a geometrical pattern of repeated triangles, arches, punctures, and a number of ridges.

b. Bukit Batu Sapundu
The Bukit Batu Sapundu consists of three sapundu gapit, standing in aline 4 meters, topped with standing human figures. The northeastern one is a female painted wearing a traditional blue blouse, a calf-length batik sarong with parang (S-scroll) patterns, and a pair of black shoes. Her arms hang beside her body and she holds a rectangular object. The middle figure is sculpted and painted similar to the first, except for the black colour of the blouse and the hands positioned above the rectangular object, instead of holding it. The poles of both female figures are undecorated and painted blue. The third figure to the southwest is a male standing with legs slightly apart, painted attired in a long sleeved shirt, trousers, shoes and a cap. Interestingly, rather than the usual rectangular object, the man grasps a huge lizard carved vertically with its head pointing down (Plate 7). The supporting post of the male figure is carved as a pedestal decorated with repeated triangles, ridges and a repeated leaf pattern.

The clusters of sapundu in each site described above provide a preliminary understanding of mortuary practice performed by the Seranau and Cempaga Ngaju. Each sapundu shows distinct traits, yet they are based on one belief, Kaharingan, indicating varieties (and preferences) of mortuary behaviour occurred in the past.

C. Distinct Characteristic
Each sapundu found in the abandoned villages of Keleka Natay Kunang and Keleka Nahan Biru and in the contemporary villages of Tanah Putih and Bukit Batu display interesting characteristic differences in regard to its dimension, poses and hand positions, gender and decoration, and orientation.

1. Dimension
The comparison of associated paraphernalia between the abandoned villages shows that the heights of most sapundu gapit in Keleka Nahan Biru (226-440 cm) are greater than those in Keleka Natay Kunang (197-354 cm; Table 1). Interestingly, the figures sculpted on sapundu gapit in Keleka Natay Kunang take up an average 48% or more of the total height of the sapundu gapit, in comparison to those in Keleka Nahan Biru, which cover an average 18% of the total height (Figure III-1). The Ngaju in each abandoned village designed their sapundu gapit differently, as well as their sandong. Nevertheless, the sapundu gapit in Keleka Natay Kunang have approximately the same height as their associated sandong, which also applies in Keleka Nahan Biru.

For instance, the heights of the four sapundu gapit of Sandong Rami (SR) range between 197 and 261 cm, and the height of the sandong is 240 cm. The human figures sculpted on the upper shafts of the sapundu gapit are at approximately the same level above the ground as the vault floor of the sandong, both in Keleka Natay Kunang and Kelaka Nahan Biru. As the sapundu gapit is acknowledged by the Ngaju to represent the ancestors and erected as a means of casting away evil spirits, I assume that this is the motive for sculpting the human figures level with the vault floor of the sandong. Although the heights of two of the sapundu kurban in Keleka Natay Kunang are greater than those of the sapundu gapit, the human figures are sculpted at the same height as the vault floor of the sandong. Based on this evidence, it is assumed that the societies of Keleka Natay Kunang and Keleka Nahan Biru utilised similar concepts in the design of their sandong and associated paraphernalia.

The dimensions of the sapundu gapit in the abandoned villages and their living successors in the Seranau and Cempaga River Basins present both differences and similarities. The heights of the sapundu gapit in Keleka Natay Kunang and Tanah Putih correspond with the heights of their associated sandong. Where there are sandong tulang (Sandong Marotan, Sandong Rami, Sandong Nyi Goebang and Sandong Tihin Bahen) which are raised above ground on support structures, the sapundu gapit are also raised on high posts (Table 2). In contrast, where there are sandong raung (Sandong Sri Saong and Sandong Nawa Goebang), which are partly sunk into a rectangular pit supported on beams, the sapundu gapit are not as high, but are still raised above the ground, except for Sandong Julak Jawa where the sapundu gapit are more deeply buried (Table 2).

Since the sapundu gapit of Sandong Julak Jawa and the figures of the sapundu gapit of Sandong Tihin Bahen have perished, their dimensions cannot be compared with other sapundu gapit. However, it is understood that the figures of the sapundu gapit of Sandong Julak Jawa were standing on posts at a level with the vault floor, which was supported on beams. On the other hand, based on the surviving post and remains of the figures of sapundu gapit of Sandong Tihin Bahen, it appears that the human figures there were sculpted approximately 41-71 cm lower than the level of the vault, which is 271 cm high.

The sapundu gapit of Sandong Nawa Goebang (NG) and Sandong Sri Saong (SS) have approximately 61-69% of the upper shaft sculpted as human figures. This suggests that greater proportions of the sapundu gapit in Tanah Putih were sculpted as statues, leaving a lesser part unsculpted. Only 47-48% of the upper shafts of the sapundu gapit in Keleka Natay Kunang are carved into figures (Figure III-2).

The dimensions of the sapundu gapit in Keleka Nahan Biru and Bukit Batu in the Cempaga River Basin do not show great differences. The range of heights of sapundu gapit of Sandong Sendung Timbang (281-335 cm) is within the range of heights of Sandong Nahan Biru (226-440 cm; Table 3). Dissimilarities are revealed in terms of the percentage of the upper shaft carved into a human figure, and in the fact that the wooden statues of the sapundu gapit of Sandong Sendung Timbang are raised high above the ground. Although the dimensions of sapundu gapit in Keleka Nahan Biru and Bukit Batu are similar, the proportion of the sculpted part is greater in Bukit Batu (43%) than in Keleka Nahan Biru (18%; Figure III-3). The second difference is intriguing, since Sandong Sendung Timbang is a sandong raung, and so the sculpted human figures might be expected to at the same level as the vault floor. But they are not.

The differences in the dimensions of the sapundu gapit between the villages in both river basins are largely differences with respect to the relative heights of the human figures and the sandong. With sandong tulang, which are raised on igh support structures, the associated sapundu gapit are as high as the sandong. With sandong raung, which are partly sunk in pits, the heights of their associated sapundu gapit vary considerably, being either at the same level as the vault, as in Sandong Julak Jawa (JJ) and Sandong Sendung Timbang (ST), or on a higher level, as in Sandong Sri Saong (SS) and Sandong Nawa Goebang (NG).

Another dissimilarity is indicated by the greater proportional heights of the sapundu gapit and sapundu kurban being sculpted with human figures in the contemporary villages than in the abandoned ones, except for the sapundu gapit in Bukit Batu. Tables 1, 2 and 3 show that an average of 69% of the height of each sapundu gapit of Sandong Sri Saong (SS) is carved into a human figure. Comparative percentages are 54% for the sapundu kurban of Sandong Nyi Goebang (NyG), 61% for the sapundu gapit of Sandong Nawa Goebang (NG) and 43% for the sapundu gapit of Sandong Sendung Timbang. In the abandoned villages, the human figures occupy 48% of the total heights of the sapundu gapit and sapundu kurban of Sandong Marotan (SM), 47% in the case of Sandong Rami (SR), and only 18% for Sandong Nahan Biru-1 (NB1).
While most sapundu gapit and sapundu kurban in both river basins are level with the vaults of their associated sandong, the sapundu gapit of Sandong Sendung Timbang present a different situation in that the human figures are raised higher than those of the sapundu gapit of a sandong raung. In general, however, there is some degree of standardisation in the construction of these associated mortuary sculptures.

2. Poses and hand position
The figures’ pose and hand position suggest that changes have occurred over time in the mortuary depictions of the Ngaju. Notwithstanding the missing figures of SG1 and SG6 of Sandong Rami (SR), all of the surviving human figures are sculpted in an upright pose, whereas it varies in Keleka Nahan Biru. Based on the surviving human figures on the sapundu gapit of Sandong Nahan Biru-1 (NB1), eight are sculpted in an upright pose (SG1, SG7, SG8, SG11, SG12, SG15, SG16 and SG17), while five are posed sitting or crouching (SG2, SG4, SG5 and SG6). In both abandoned villages, all standing figures are carved in a stationary manner.

A comparison of poses between the modern villages in the Seranau River Basin indicates that most sapundu gapit figures are also sculpted standing upright in a stationary manner. The figure of a sapundu kurban at Sandong Nyi Goebang is sculpted standing upright, but in a dynamic manner, while one of the sapundu gapit of Sandong Tihin Bahen is sitting. In regard to the villages in the Cempaga River Basin, more varieties of pose are expressed in Keleka Nahan Biru than in Bukit Batu. As mentioned previously, there are figures on the sapundu gapit of Sandong Nahan Biru-1 (NB1), which are sculpted in a stationary upright manner. However, there are also some sculpted in sitting positions, in contrast to those of Sandong Sendung Timbang (ST), which are all sculpted standing in stationary stances.

Most of the human figures have their hands positioned holding a rectangular container, except for SG17 of Sandong Nahan Biru-1 (NB1), which is assumed to be holding a wine jar, and SG3 of Sandong Sendung Timbang (ST), which holds a lizard. There are also cases where a human figure has its hands on its chest or dangling on each side of the body (SG2 and sapundu kurban of Sandong Rami); dangling down the sides (SG1 and SG2 of Sandong Julak Jawa, sapundu kurban of Sandong Nyi Goebang and SG1 and SG3 of Sandong Nawa Goebang); over the abdomen without holding any object (SG1 of Sandong Tihin Bahen); and dangling on the sides (SG6 of Sandong Nahan Biru-1).

3. Gender and decoration
The gender and decoration between the two abandoned villages indicates that 46% of the total sapundu gapit and sapundu kurban in Keleka Natay Kunang are sculpted as female figures, 27% as male and another 27% are unidentifiable. In Keleka Nahan Biru, 42% are female, 16% are male and 42% are unidentifiable. Other differences are indicated by the carved sides of the lower shafts of sapundu gapit and sapundu kurban, which are mostly found in Keleka Nahan Biru-1 (NB), but occur only on SG2 of Sandong Rami (SR). Other differences are: i) the devilish face that exists only on SG10 in Keleka Nahan Biru-1 (NB1); ii) tetat and cacak burung, which appear on 42% of sapundu gapit in Keleka Nahan Biru but only 27% in Keleka Natay Kunang; and iii) geometrical patterns of repeated triangles, arches, ridges, punctures and symmetrical floral scrolls discovered only on the lower shaft of SG19 of Sandong Nahan Biru-1 (NB1).

Apart from the gender differences, decorations observed to be similar in both abandoned villages are the objects held by the figures and their attire. 53% of the figures in Keleka Nahan Biru are bare-chested and clad in a sarong for the females and in slacks for males. 5% of the latter are fully attired in shirt and slacks, and 42% are unidentifiable. In Keleka Natay Kunang, 56% are bare-chested and clad in either sarong or slacks, 18% are fully attired, and 26% are unidentifiable.

In Tanah Putih, 46% of the old sapundu gapit and sapundu kurban are sculpted as female and 54% as male, while in Keleka Natay Kunang, 46% are female and 27% are male. Dissimilarities are also shown by the differences in attire displayed by the figures. 55% of the human figures of the sapundu gapit and sapundu kurban in Keleka Natay Kunang are bare-chested and clad either in a sarong or slacks, 18% are fully attired and 27% are unidentified, while in Tanah Putih, 54% are fully attired and 46% are bare-chested and clad in a sarong or slacks.

Another variable is the presence or absence of tetat and cacak burung on the lower shafts of the sapundu gapit and sapundu kurban. In Keleka Natay Kunang, 27% of the total population of sapundu gapit and sapundu kurban are adorned in this way, while in Tanah Putih, 54% have tetat. Finally, the survival of the colours of yellow and white on the sapundu gapit of Sandong Sri Saong is due to continuous maintenance by its inheritor. Similarities of decoration between both abandoned sites include the slightly carved sides of the lower shaft of SG2 of Sandong Rami and of the sapundu kurban of Sandong Nyi Goebang.

In Keleka Nahan Biru and Bukit Batu, the percentage of sculpted female figures (42% in NB1 and 67% in ST) on either sapundu gapit or sapundu kurban is greater than that of male figures (16% in NB1 and 33% in ST). The differences of decoration observed are in the clothing; and in the decoration on the lower shafts of the posts. The characteristics of clothing between the two sites differ significantly. The figures in Keleka Nahan Biru are 53% bare-chested and clad in a sarong or slacks, while 100% of the figures in Bukit Batu are fully attired. The second dissimilarity is that 37% of the lower shafts of the sapundu gapit of Sandong Nahan Biru-1 (NB1) have carved sides, 42% have tetat and cacak burung, 5% are decorated with a devilish faces and another 5% with a symmetrical floral scroll, repeated triangles, arches, ridges and punctures. On the other hand, 100% of the lower shafts of the sapundu gapit of Sandong Sendung Timbang (ST) are painted in blue, white and black, but 33% also have the additional colour of green and are decorated with a geometrical pattern of repeated triangles, arches and ridges.

Although the female figures on the total number of sapundu, either sapundu gapit or sapundu kurban, in the study area outnumber the males, the male figures (20%) are more likely to be sculpted with a complete clothing of shirts and slacks than are the female figures (9%). The sapundu gapit and sapundu kurban in each site presents specific characteristic. I assume there are more female figures because they are equated with death, but the male figures are there to add the balance of life.

4. Orientation
The arrangement with respect to the orientation of the sandong indicates that the sapundu gapit in the abandoned villages in both river basins are arranged in a row aligned with their associated sandong, facing the river. However, in Sandong Rami (SR), two sapundu gapit are placed diagonally in front of the sandong; SG5 to the northeast and SG6 to the southeast, both destroyed leaving only 1 m high undecorated posts. In Keleka Nahan Biru there are 3 sapundu gapit standing unevenly north of the row of sapundu gapit aligned on Sandong Nahan Biru-1 (NB1), and another stands in front of the sandong.

The arrangements of sapundu gapit in each site vary. The sapundu gapit in the complex of Sandong Marotan are arranged in a line with the sandong facing the Raku River to their west, which flows to the northeast. The arrangement of the sapundu gapit from northeast to southwest is in the order of female, female and male. In the complex of Sandong Rami, where the sandong faces the Raku River to its east, two sapundu gapit southwest of the sandong are female, two to the northeast are female then male, while the other two erected diagonally in front of the sandong are male.

In Keleka Nahan Biru, Sandong Nahan Biru-1 (NB1) faces the Cempaga River to the east, which flows to the south. The arrangement of its 19 sapundu gapit is more complex than that in Keleka Natay Kunang. Based on the unweathered figures on the sapundu gapit, it appears that four sapundu gapit on the north row are female and another four on the south row between NB1 and NB2 are also female, while two male figures are found within the north row and one among the south row. These facts suggest that, among the past societies of the Ngaju in both river basins, there was no specific manner of orienting the sapundu gapit with respect to their associated sandong.

The arrangement of sapundu gapit in Tanah Putih is more specific. The five sandong in Tanah Putih face the Seranau River to the east, which flows from northwest to east. The sapundu gapit of each associated sandong are erected in a line with the vault. The ones to the northwest are sculpted as males, and females to the southwest. There is an exception with Sandong Nyi Goebang and Sandong Nawa Goebang. The sapundu gapit of Sandong Nyi Goebang have not survived. The ones of Sandong Nawa Goebang are arranged as two groups of couples i.e. male and female to the northwest, and another male and female to the southwest. Nevertheless, the northwesterly sapundu gapit of each group are sculpted as males.

The arrangement of the sapundu gapit of Sandong Sendung Timbang indicates a system different to that of Tanah Putih. Sandong Sendung Timbang faces the Cempaga River to its east, which flows southwards. The three sapundu gapit are arranged in a line 4 m in front of the sandong, facing the Cempaga River and in a northeast to southwest order of female, female and male.

The arrangement of sapundu gapit between the villages in the Seranau and Cempaga River Basins shows different ideas between the past and the present society of the Ngaju. The irregular arrangements of sapundu gapit in the abandoned sites and the more orderly patterns in the contemporary villages demonstrate that there have been changing mortuary arrangements among the Ngaju. In regard to the female figures sculpted on particular sapundu gapit oriented downstream, representing the destination of the dead, I suspect the people who established Sandong Marotan had the same belief system as the people who established the old sandong in Tanah Putih.

Similar perceptions shared by the two societies include the emphasis on the double characteristics of death, represented by the downstream direction and the female gender, as evidenced by the sapundu gapit that face downstream and are sculpted with female figures. The three sapundu gapit of Sandong Marotan face the Raku River, that flows northeastward. Two female sapundu gapit are positioned alternately with the first sandong tulang (ST1) in the northeastern row. In Tanah Putih, the Seranau River flows southeast, bending eastward. The sapundu gapit southeast of the sandong are sculpted with female figures, except for the sapundu gapit of Sandong Nawa Goebang, which are arranged alternately, male then female, either on the northwestern or the southeastern side.

In the case of Sandong Rami, although Kupun Idaa claims that the people who established the sandong come from the same lineage as those of Sandong Marotan, it appears that these two societies have a different method of manifesting their mortuary system. Most of the female figures on the sapundu gapit of Sandong Rami (SR) are arranged on the southwestern side of the sandong, which points upstream.

D. Significance
Among the distinctiveness of each sapundu discussed above, the orientation aspect is the most significant variable which manifests the essence of mortuary behaviour of the Seranau and Cempaga Ngaju. The orientation of the cluster of sapundu in each site complies with the orientation of the related sandong. The clusters of sapundu in Keleka Natay Kunang faces a different direction i.e. northwest (Marotan Sapundu) and southeast (Rami Sapundu). All clusters of sapundu in Tanah Putih are oriented northeast, while Nahan Biru and Sendung Timbang sapundu are oriented southeast. The orientation northeast and southeast signifies that the cluster of sapundu are facing the direction of the sunrise, except for Marotan Sapundu that faces northwest, where the sun sets.

A common tradition shared by the Ngaju and the Maanyan (in the northeast Barito Basin) in constructing their dwellings is to orient them to the rising sun or mate andrau welom (Ngindra 1977/1978:21). Since the Ngaju perceive a link between the physical world and the afterworld, the orientation of their mortuary facility may mirror that of their dwellings. Nevertheless, the more significant aspect with respect to Ngaju eschatology is water, in this case the river, believed to be used in the journey of the dead to reach their destination. Every cluster of old sapundu (in respect with its associated sandong) in the study area either faces the Raku (the smallest tributary of the Seranau River), Seranau or Cempaga River. As well as mortuary orientation toward rivers, a more significant direction in regard to the final destination of the journey of the dead is towards the sea. The physical relationship of the river with the sea is signified by the river course flowing downstream. There is a high correlation between the direction toward the sun, water and the high percentage of figures sculpted as female gender, which clearly connote death (Shärer 1963:17-31).

With respect to the relationship between death and river, and the female gender, the arrangement of human figures on both Rami and Sendung Timbang sapundu on the upperstream area suggest the people who established them had the similar concepts of death. The Raku River runs downstream northeastward and the human figure crowning the northeastern sapundu gapit is male. The Cempaga River flows southeastward and a male figure topped the southeastern sapundu gapit. Since the fundamental purpose of the Ngaju is to create balance in the world both in their present life and in the afterlife, they tend to portray the afterlife in reversed mode, as discussed above. I assume that is why the societies of Sandong Rami (SR) and Sandong Sendung Timbang (ST) positioned the male figures in accord with the river flow downstream and the female figures upstream, rather than the situation we would expect, given that female, death and the downstream direction are otherwise associated.

The varieties of sapundu reflect the varied mortuary behaviour of the Ngaju in both river basins in manifesting the ideal commemoration to the ancestors. It is assumed that the diverse sculpting styles of sapundu in the study area do not reflect differentiation of social ranking or lineage. Each cluster of sapundu in each site has its own style, which assumed to be built dimensionally adjusted to its associated sandong. Nevertheless, the qualitative properties suggest a sharing of recent dynamics of cultural change. The constant change of culture can be influenced by internal or external agencies. Ngindra (et.al 1977/1978:25-26) indicates that the Ngaju have been continuously migrating from the highlands toward the coast to find new land to cultivate. In the case of the villages in the study area, claims of movement from the abandoned villages to the contemporary are persistently stated by the locals of the contemporary villages. Nevertheless, I assume external agency has played a significant role in cultural development in the Seranau and Cempaga River Basins.

Since the introduction of Hinduism by the Majapahit Empire in 1292-1478 (Schärer 1963:13; Slametmulyana 1979:146 and 279), Islam by the Sultanate of Banjar in 1540 (Ngindra et.al 1977/1978:28; Kutojo 1979:5) Dutch occupation in 1635 (ANRI 1965:231) to Christianity in 1835 (Riwut 1993:133), the Nagju have continously affected by external influences. These influences have affected many and different aspects of the Ngaju culture. For instance, Hinduism has led to the borrowing of the terms Mahatala for Tingang and Jata for Tambon. Islam or Malayic culture has an effect on sculpture design, such as the use of the kopiah (Malay hat) and a combination of a long blouse and sarong or slacks. The influence of Dutch colonialism on the prohibition of headhunting and slavery caused the substitution of animal sacrifice for human sacrifice. Christianity significantly increased the number of religious conversions among the Ngaju.

With respect to mortuary behaviour, I assume that the in the long run the influences of these external cultures have had an effect on how the Ngaju manifested their mortuary system. Tillotson (2005 pers.comm.) suggests the change or elimination of frightening attributes formerly found on mortuary facility and their associated paraphernalia, such as bulging-eyed monsters with giant lizards on their heads, suggests this may be part of a whole process, which seems to have occurred over time with Ngaju mortuary rituals, which is the steady softening up of the horrifying aspects, and at the end the manifestation becomes based on custom rather than real fear.

E. Conclusion
The characteristic of sapundu of the Seranau and Cempaga Ngaju show distinctiveness in each site in regard to dimension, poses and hand position, gender and decoration and orientation. For instance, the percentage of height of figure to total height of sapundu, standing or sitting pose of the figure, hand dangling to each side of body or holding an object over its belly, tetat or/and cacak burung notches, headdress and attires. However, there are potential attributes that retain to exist constantly in every sculpture i.e. the display of human figure crowning the sapundu post and a rectangular box held over the belly. The most interesting aspect is the choice of female gender for sculptures on the sapundu gapit. On the other hand, the sapundu kurban are crowned by male figures. In term of orientation, it can be suggested that the sapundu conforms to the Ngaju conception of the microcosm and death noted by the choice of direction generally toward the sun and the river flow downstream.

Conclusively, differences of characteristic in each site are due to constant external and internal cultural transformation which too place between the periods of the abandoned and contemporary villages in the same river basins. External influence is reflected by the qualitative appearance of sapundu, whereas internal changes reflect the natural dynamic of culture itself.


Reference

ANRI. 1965. Surat-surat Perdjandjian antara Kesultanan Bandjamasin dengan pemerintahan-pemerintahan V.O.C. Bataafse Republik, Inggeris dan Hindia-Belanda 1635-1860. Djakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia.

Binford, Lewis R. 1971. Mortuary practices: their study and potential. In J.A. Brown (ed). Approaches to the Social Dimensions of Mortuary Practices Memoir of the Society for American Archaeology 25:6-29.

Kutojo, Sutrisno, Bambang Suwondo, A.Yunus, Sagimun dan Latif (eds). 1979. Monografi Daerah Kalimantan Tengah. Jakarta: Proyek Media Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

MacKinnon, Cathy, Gusti Hatta, Hakimah Halim and Arthur Mangalik. 1997. The ecology of Kalimantan. Indonesian Borneo. The Ecology of Indonesia Series Volume III. Singapore: Oxford University Press.

McHugh, Feldore. 1999. Theoretical and Quantitative Approaches to the Study of Mortuary Practice. British Archaeological Reports (BAR) Series 785. Oxford: Archaeopress.

Mytum, Harold. 2004. Mortuary Monuments and Burial Grounds of the Historic Period. New York: Kluwer Academic/Plenum Publishers.

Ngindra, F. et.al. 1977/1978. Sejarah Daerah Kalimantan Tengah. Palangkaraya: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Tengah.

O’Shea, John M. 1984. Mortuary Variability: An Archaeological Investigation. Orlando: Academic Press, Inc.

Pearson, Mike Parker. 2003. The Archaeology of Death and Burial. Phoenix Mill: Sutton Publishing.

Riwut, Nila dan Agus Fahri Husein (eds). 1993. Kalimantan Membangun: Alam dan Kebudayaan. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya.

Saxe, A.A. 1970. Social Dimensions of Mortuary Practice. Ann Arbor: University Microfilms International.

Shärer, Hans. 1963. Ngaju religion. The conception of God among a South Borneo people. Translated by Rodney Needham. In Köninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde translation Series 6. The Hague: Martinus Nijhoff.

Slametmuljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.

z Penulis adalah Peneliti Pertama pada Balai Arkeologi Banjarmasin; webpage: http://archaeo-gist.blogspot.com/; email: vkusmartono@yahoo.com
[1] There are two varieties: sandong tulang and sandong raung
[2] A tall decorated post symbolizing the Tree of Life
[3] A long undecorated post denoting a ladder to the Upperworld
[4] An anthropomorphic post
[5] Which has become full of bones, so that it is necessary to construct a new one to accommodate a recently deceased individual; 2003 pers.comm with the Village Head of Bukit Batu, Ayetri Ucun bin Jaharnis, 51 years old
[6] Anthropomorphic post for casting away evil spirits
[7] Anthropomorphic post for tethering sacrificial animals
[8] Old abandoned village
[9] Tanah Putih is located approximately 7.5 kilometers northeast to Keleka Natay Kunang
[10] Bukit Batu is located approximately 2 kilometers north to Keleka Nahan Biru
[11] Ironwood Eusideroxylon zwageri
[12] Rambutan (Nephelium), coconut, pinang (areca nut), rasau (a pandanus-like plant that bears a breadfruit-like crop), rattan and belangiran (Shorea belangeran)
[13] Small sacrificial shrine
[14] Horizontal notches
[15] Incised of “X”s
[16] Bun hairstyle
[17] Statues of ancestors
[18] Three collapsed sanggaran were found among the nineteen sapundu gapit
[19] Interestingly, the Sendung Timbang Sanggaran were found within the village settlement instead of close to the sandong

TEMUAN PRASEJARAH DI KALIMANTAN SELATAN: KAJIAN PERSEBARAN DAN PERMASALAHANNYA

Bambang Sugiyanto

Abstrak

Koleksi artefak prasejarah yang ada di Museum Lambung Mangkurat, dapat dipergunakan sebagai data untuk membahas persebaran dan perkembangan budaya prasejarah di wilayah Kalimantan Selatan. Data tentang keterangan tempat atau lokasi dari mana artefak ditemukan dapat dijadikan dasar untuk menentukan langkah penelitian selanjutnya. Namun, tidak semua keterangan tempat itu merupakan tempat artefak itu ditemukan, sehingga perlu dipertanyakan lagi asal artefak tersebut. Aspek ruang, waktu, dan bentuk sangat penting dalam pengamatan dan analisis artefak prasejarah. Dalam hal ini, Koleksi artefak prasejarah Museum Lambung Mangkurat hanya memiliki aspek bentuk saja.

Prehistory artefak colecction in Lambung Mangkurat Museum can to use as data to study of prehistory culture distribution and development in South Kalimantan province. Data abaut place identification or sites where the artefak founded can be use base of to ascertain mereover research step. In spite of, not all that identification place to represent place where artefact founded, so that need to ask where found the artefact mentioned. Space, time, and form aspect very important in inspection and analizise prehistory artefact. This case inside, prehistory artefact collection Lambung Mangkurat Museum only have of form aspect.

Kata Kunci : Persebaran, budaya prasejarah, kalimantan selatan.

A. Pendahuluan
Temuan budaya prasejarah (artefak) yang sering ditemukan baik dalam penelitian maupun yang ditemukan secara tidak sengaja oleh sebagian penduduk pada umumnya berupa peralatan yang terbuat dari bahan batuan. Artefak dari bahan batuan (lithik) ini memang dikenal mempunyai ketahanan yang cukup bagus sesuai dengan bahannya, sehingga sebagian besar masih mempunyai bentuk yang cukup lengkap pada saat ditemukan. Sementara untuk artefak prasejarah lainnya yang terbuat dari bahan tulang, bambu, kayu atau pun tanduk, pada umumnya tidak mempunyai ketahanan fisik yang bagus. Artefak seperti itu hanya biasa ditemukan pada kegiatan penelitian ekskavasi arkeologi dengan metode dan cara yang khusus.

Beberapa alat (artefak) batu yang sekarang menjadi koleksi Museum Negeri Lambung Mangkurat di Banjarbaru merupakan bukti yang tidak dapat dibantah lagi mengenai kehidupan manusia prasejarah ribuan tahun yang lalu di wilayah Kalimantan Selatan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan balai Arkeologi Banjarmasin dari tahun 1995 sampai sekarang, memang belum banyak ditemukan situs-situs prasejarah di wilayah Kalimantan Selatan. Untuk sementara ini baru situs Gua Babi dan Gua Tengkorak yang berada di perbukitan kars Gunung Batubuli di sekitar Desa Randu, Kecamatan Muara Uya, Kabupaten Tabalong. Situs Gua Babi merupakan sebuah situs gua hunian prasejarah yang berasal dari periode budaya Mesolithik dan situs Gua Tengkorak merupakan sebuah situs gua penguburan pertama di wilayah Kalimantan Selatan yang menyimpan sisa-sisa penguburan manusia Australomelanesid (Widianto dan Handini, 1997).

Beberapa penelitian survei lain yang dilakukan di wilayah kabupaten lain di Kalimantan Selatan juga menunjukkan adanya indikasi yang kuat akan potensi situs-situs prasejarah, seperti di daerah pegunungan karst di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tanah Bumbu, dan Tanah Laut. Di wilayah Kabupaten Tanah Bumbu, akhir tahun 2006 berhasil ditemukan 2 buah situs gua prasejarah, yaitu Gua Sugung dan Gua Landung, yang berada di sekitar Desa Mantewe (Km 42). Penemuan 2 situs prasejarah tersebut tampaknya membuka kemungkinan baru tentang kebenaran hipotesa bahwa persebaran manusia prasejarah di Kalimantan Selatan berasal dari arah selatan melalui pegunungan Meratus, yang pada masa yang lalu pernah berhubungan dengan pegunungan Rembang di Jawa.

Berdasarkan hipotesa tersebut, beberapa catatan tentang adanya temuan artefak prasejarah di sekitar wilayah Kalimantan Selatan bagian Tenggara menjadi penting artinya dalam pembahasan tersebut. Persebaran temuan artefak prasejarah yang sekarang menjadi koleksi Museum Negeri Lambung Mangkurat Banjarbaru, dapat digunakan sebagai data untuk mengungkapkan kebenaran Hipotesa tersebut di atas.

B. Distribusi Temuan Prasejarah di Kalimantan Selatan
Sedikitnya terdapat sekitar 143 bauh artefak prasejarah yang menjadi koleksi Museum Negeri Lambung Mangkurat Banjarbaru. Secara morfologis, artefak batu koleksi Museum Negeri Lambung Mangkurat dapat dibedakan dalam kapak penetak, kapak perimbas, kapak genggam sederhana, serpih besar, beliung persegi, serta beberapa batu alam yang digunakan manusia atau yang mempunyai bentuk yang unik, beberapa kapak corong, mata tombak, manik-manik batuan dan gerabah, serta setangkup cetakan kakap corong dari batuan. Semua koleksi prasejarah museum Lambung Mangkurat tersebut diatas merupakan temuan permukaan yang ditemukan oleh penduduk setempat pada saat tertentu, seperti: menggarap lahan perkebunan, pembuatan saluran irigasi, pembuatan pondasi rumah dan lain-lain. Sebagai barang temuan di permukaan tanah atau yang terangkat ke atas tanah secara tidak sengaja, yang kemudian dilaporkan atau dihibahkan ke Museum Lambung Mangkurat. Hibah semacam ini biasanya biasanya dilakukan oleh perseorangan atau kelompok yang menyadari arti pentingnya benda tersebut bagi perkembangan dan penelitian kebudayaan lokal maupun nasional.

Berdasarkan informasi pada keterangan temuan diketahui bahwa koleksi prasejarah tersebut berasal dari Kabupaten Barito Kuala (4 situs), Kabupaten Banjar (9 situs), Kabupaten Hulu Sungai Tengah (6 situs), Kabupaten Kotabaru (4 situs), Kabupaten Tapin (2 situs), Kabupaten Hulu Sungai Selatan (3 situs), Kotamadya Banjarbaru (2 situs), Kotamadya Banjarmasin (2 situs), Kabupaten Tanah Laut (2 situs), Kabupaten Hulu Sungai Utara (1 situs). Lokasi asal koleksi prasejarah ini tidak mencerminkan langsung bahwa di tempat itu terdapat situs prasejarah. Hal ini disebabkan pada umumnya benda koleksi tersebut sudah menjadi barang warisan atau simpanan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya, sampai pada saat dihibahkan pada Museum Lambung Mangkurat. Situs prasejarah di wilayah Kalimantan Selatan sebaiknya di cari dan ditelusuri pada kawasan pegunungan atau perbukitan karst di sekitar Pegunungan Meratus. Atau bisa juga ditelusuri pada daerah tepian sungai yang banyak mengandung batu-batuan calon pembuatan alat.

Untuk diketahui, kehidupan prasejarah diawali pada permukiman terbuka di sepanjang tepian sungai, danau atau laut, yang banyak menyediakan sumber bahan perlatan dan makanan. Dengan model kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana, manusia prasejarah pada saat itu dipaksa untuk selalu bergerak berpindah tempat mengikuti perpindahan kelompok binatang buruan mereka. Tempat terbuka di tepian sungai, danau ataupun pantai merupakan lokasi yang sangat strategis bagi kegiatan berburu yang mereka lakukan. Pemilihan lokasi itu didasari oleh kebutuhan akan sumber air dan sumber bahan batuan untuk pembuatan peralatan batu serta kebutuhan akan sumber makanan yang mencukupi untuk kelompok mereka. Pada perkembangan yang berikutnya, mereka mulai mengenal gua dan ceruk payung sebagai salah satu tempat bernaung atau beristirahat yang nyaman, yang kemudian dijadikan sebagai tempat tinggal.

Kemudian pada tahapan berikutnya, meskipun masih mempertahankan kegiatan berburu mereka sudah mulai meramu makanan yang berhasil mereka dapatkan dari lingkungan sekitarnya. Peramuan makanan ini dapat terjadi dengan adanya kemampuan untuk membuat api. Dengan kemampuan tersebut, mereka mulai dapat meramu makanan atau mengolahnya menjadi makanan yang lebih baik. Disamping itu, penemuan api ini juga mendasari kemunculan kemampuan untuk membuat wadah dari tanah liat yang dibakar, yang sering disebut tembikar atau gerabah. Sisa-sisa gerabah seperti ini sering kali ditemukan pada situs gua hunian, yang biasanya berasosiasi dengan peralatan batu, peralatan tulang, sampah makanan atau bekas perapian. Bahkan kadang kala juga ditemukan sisa penguburan yang berasal dari ribuan tahun yang lalu. Gambaran seperti ini dapat kita saksikan pada situs Gua Babi, di Kecamatan Muarauya, Kabupaten Tabalong, sementara untuk sisa penguburan ditemukan di Gua Tengkorak, yang juga berada di pegunungan karst yang sama dengan Gua Babi pada sisi lereng yang bertolakbelakang.

Tahapan selanjutnya adalah bercocok tanam. Pada masa inilah kepandaian dalam pembuatan alat logam mulai berkembang pesat dan secara cepat menggantikan fungsi peralatan dari batuan dan tulang yang biasanya dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kegiatan berburu sudah tidak lagi menjadi kegiatan utama dalam pemenuhan kebutuhan makanan. Peningkatan kemampuan dan teknologi ini sedikit banyak mendorong tingkat kehidupan ke arah yang lebih baik, yang secara langsung berakibat pada meningkatnya jumlah anggota kelompok secara drastis. Peningkatan jumlah penduduk ini berimbas pada peningkatan jumlah sumber makanan yang mereka perlukan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, mereka kemudian mengembangkan model domestikasi tanaman dan binatang, yang lebih baik dalam penyediaan sumber bahan makanan buat mereka. Pengembangan domestikasi tanaman inilah yang kemudian berkembang pesat menjadi model tebang bakar (slash and burn), persawahan kering dan persawahan basah seperti sekarang banyak terdapat di pedesaan di Indonesia.

Berdasarkan keterangan di atas, kita dapat menjelaskan apakah alamat asal koleksi prasejarah yang sekarang disimpan di Museum Lambung Mangkurat merupakan suatu situs atau bukan. Pertama kita melihat lokasi yang ada di Kabupaten Barito Kuala. Menurut keterangan, koleksi prasejarah yang berasal dari Kabupaten Barito Kuala, antara lain berasal dari: Desa Patih Muhur, Kecamatan Anjir Muara; Desa Tamban Muara, Kecamatan Tamban; Desa Tabunganen, Kecamatan Tabunganen Muara; dan Desa Marabahan, Kecamatan Marabahan. Secara geografis keempat desa tersebut terletak di dataran rendah yang bersifat tanah gambut. Pada lokasi yang demikian, pada umumnya koleksi yang ada cenderung berasal dari luar daerah, yang sengaja disimpan atau dibawa ke daerah ini sampai pada akhirnya dihibahkan ke Museum. Dapat dikatakan bahwa pada keempat desa tersebut kecil sekali kemungkinannya benar-benar sebagai lokasi penemuan aslinya. Desa Pati Muhur, Kecamatan Anjir Muara baru-baru ini diketahui sebagai salah satu situs pemukiman lama yang akan diteliti oleh Balai Arkeologi Banjarmasin. Sisa-sisa pemukiman yang berupa tonggak-tonggak kayu ulin yang panjang dan besar masih banyak terdapat didalam tanah. Sementara itu temuan lepas yang didapat dari situs ini adalah 2 buah beliung persegi dan beberapa benda keramik. Tampaknya 2 buah beliung persegi yang berasal dari masa prasejarah ini tetap dipakai secara turun temurun dengan fungsi yang sudah berubah tidak lagi fungsi praktis yang digunakan, tetapi lebih ke fungsi sosial atau ideologi.

Sementara itu, untuk Kabupaten Banjar dilaporkan ada 8 desa tempat asal koleksi prasejarah, yaitu: Desa Madurejo, Kecamatan Pengaron; Desa Lobang Baru, Kecamatan Pengaron; Desa Sumenep I Madurejo, Kecamatan Pengaron; Desa Simpang III, Kecamatan Matraman; Kecamatan Martapura; Desa Pakutik, Kecamatan Sei Pinang; Desa Kahelaan, Kecamatan Sei Pinang; Desa Tamboja, Kecamatan Aranio; dan Desa Awang Bangkal, Kecamatan Aranio. Kecamatan Pengaron dan Aranio memang berada di sekitar Pegunungan Meratus yang banyak mempunyai gunung dan bukit karst. Pada kawasan inilah biasanya banyak dijumpai adanya gua-gua dan ceruk payung yang cenderung pernah dipergunakan oleh manusia prasejarah ribuan tahun yang lalu. Bahkan temuan prasejarah pertama dari Kalimantan ditemukan pada undak sungai di tepi selatan Sungai Riam Kanan di Awang Bangkal pada tahun 1939 oleh H. Kupper. Alat-alat batu yang ditemukan ini menurut van Heekeren menyerupai alat tipe Hoa binh yang monofasial, yang kemudian pendapat tersebut diubahnya dan menggolongkan alat-alat itu sebagai unsur budaya kapak perimbas. Alat-alat itu dibuat dari kuarsa terdiri dari lima buah bercorak kapak perimbas, dan dua buah alat serpih ( Poesponegoro dan Notosusanto 1993)

Pada tahun 1958, Toer Soetardjo menemukan sebuah alat paleolitik di Awangbangkal. Alat tersebut ditemukan di dasar sungai Riam Kanan, yang mengalir di sebelah Tenggara Martapura. Sungai Riam Kanan ini terletak di sebelah barat barisan pegunungan Meratus. Daerah aliran sungai yang terbentang di sebelah Tenggara Awang Bangkal melintasi susunan lapisan yang berasal dari Pra-Tersier (terutama sekis hornblenda dan batuan basal) dan Tersier (batu-batuan sedimenter dan lapisan-lapisan vulkanik). Penemuan tahun 1958 ini berupa: sebuah kapak perimbas terbuat dari kerakal kuarsa varian jaspis, berbentuk bulat dan berwarna coklat kemerahan. Ukuran alat ini ialah panjang 13 cm, lebar 11,7 cm, tebal 4 cm. Jejak teknologis yang tampak pada alat tersebut adalah pemangkasannya yang dilakukan secara kasar pada satu pinggiran bidang untuk memperoleh bentuk tajaman yang konveks. Alat ini tampak tertutup patina dan terkikis sekali. Bekas-bekas pemakaian (perimping) tampak jelas pada bagian tajaman alat (Poesponegoro dan Notosusanto 1993). Kemudian pada survei tahun 1976 di daerah aliran Sungai Riam Kanan di sekitar tempat penemuan yang lama, tim yang dipimpin D.D. Bintarti berhasil menemukan beberapa buah alat batu. Alat-alat ini dibuat dari kuarsa yang disiapkan secara monofasial dan bentuknya menyerupai kapak perimbas temuan tahun 1958 dengan ukuran yang lebih kecil (Bintarti 1967 dalam Poesponegoro dan Notosusanto 1993).

Berdasarkan keterangan di atas, tampaknya kawasan sungai Riam Kanan dan deretan Pegunungan Meratus merupakan daerah yang cukup potensial untuk penelusuran dan penelitian prasejarah. Kawasan tersebut menyimpan misteri sejarah kehidupan manusia prasejarah yang belum terungkap mulai dari tahapan kehidupan di tempat yang terbuka sampai pada kehidupan di gua-gua. Salah satu bukti yang cukup meyakinkan adalah dengan ditemukannya situs gua hunian di pegunungan Batubuli di Kabupaten Tabalong, yaitu situs Gua Babi dengan Gua Tengkorak sebagai tempat penguburannya. Sebetulnya masih ada satu gua lagi yang potensial dalam menyimpan data prasejarah, yaitu Gua Cupu. Sayangnya kondisi gua ini telah rusak teraduk oleh kegiatan pengambilan guano oleh masyarakat sekitarnya (Sugiyanto, 2001).

Pada survei berikutnya yang dilakukan pada kawasan karst di Pegunungan Meratus di wilayah kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Tengah, juga berhasil ditemukan jejak-jejak hunian prasejarah pada beberapa gua, seperti: Gua Janggarawi dan Gua Mandala (Kabupaten Hulu Sungai Selatan). Berikutnya pada survei dan ekskavasi yang dilakukan pada kawasan karst di Kabupaten Tanah Bumbu, tepatnya di Kecamatan Mentewe pada akhir tahun 2006, tim penelitian Balai Arkeologi Banjarmasin berhasil menemukan 3 (tiga) buah situs gua hunian prasejarah baru, yaitu: Gua Sugung, Gua Payung, dan Gua Landung. Hasil ekskavasi penjajagan yang dilakukan pada situs Gua Sugung dan Gua Payung menunjukkan bahwa kedua gua tersebut memang pernah dimanfaatkan oleh kelompok manusia prasejarah pada masa yang lalu. Indikasi kehidupan prasejarah itu antara lain tampak dengan ditemukannya ratusan cangkang kerang air tawar dari jenis thiaridae (yang biasa dikenal dengan istilah “katuyung” oleh penduduk setempat), puluhan serpihan batu, sisa tulang binatang, dan fragmen gerabah baik yang polos maupun berhias. Sementara itu, jejak budaya Gua Landung terungkap lewat survei permukaan yang menemukan beberapa serpihan batuan dan sisa cangkang kerang.

Berdasarkan keterangan di atas dapatlah dikatakan bahwa jejak-jejak kehidupan prasejarah di Kalimantan Selatan ini memang banyak ditemukan pada gua-gua dan ceruk payung yang terdapat di kawasan karst yang banyak terdapat di sekitar Pegunungan Meratus, dan juga di tepian sungai purba seperti Sungai Riam Kanan yang berhulu di Pegunungan Meratus. Sungai, danau ataupun rawa-rawa yang ada merupakan sumber air yang sangat diperlukan untuk menunjang kelangsungan kehidupan manusia. Semua makhluk hidup tidak dapat hidup tanpa air, dan inilah alasan utama kenapa manusia prasejarah selalu memilih lokasi tempat tinggal atau gua-gua hunian selalu berada di dekat sumber air. Gua-gua yang kering, luas, berudara segar dengan intensitas sinar yang cukup serta yang dekat dengan sumber air, merupakan pilihan manusia prasejarah sebagai tempat tinggal mereka.

Sementara itu, keterangan atau alamat yang menjelaskan asal koleksi yang ada di Museum lambung Mangkurat pada umumnya adalah alamat si pemilik atau penemu benda, bukan alamat dimana benda itu ditemukan. Keterangan tempat seperti ini tidak banyak membantu dalam penelitian berikutnya, karena susah untuk mengetahui dimana sebenarnya benda tersebut berasal. Dalam kasus yang demikian, metode arkeologi hanya dapat mengamatinya berdasarkan bentuk dan teknologi pembuatan alat saja. Keterangan penting lain seputar artefak tersebut, seperti konteks budaya, waktu (meliputi pembuatan, pemakaian, dan pembuangan) dan pendukung budayanya tidak akan dapat diketahui. Untuk diketahui artefak yang sekarang menjadi koleksi Museum Lambung Mangkurat ini, dapat dikatakan sudah tercerabut dari akarnya. Oleh karena itu keterangan koleksi haruslah dibuat dengan selengkap-lengkapnya dengan menyertakan alamat dimana artefak tersebut ditemukan.

C. Persebaran Budaya Prasejarah di Kalimantan Selatan
Budaya prasejarah berdasarkan hasil penelitian selama ini diketahui mempunyai beberapa tahapan kehidupan yaitu: tahapan berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana, berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, berburu dan meramu makanan, bercocok tanam, dan perundagian. Pada tahapan berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana, manusia prasejarah awalnya hidup atau bermukim di daerah terbuka (open-sites) di sepanjang tepian pantai atau tepian sungai, danau serta rawa-rawa. Kehidupan selanjutnya mereka mulai bermukim di dalam gua-gua yang teduh, kering, segar dan lapang, serta dekat dengan sumber air. Kondisi gua yang nyaman tersebut menjadi pilihan utama manusia prasejarah bahkan sampai sekarang masih banyak kelompok masyarakat pedalaman di beberapa daerah di Indonesia melakukannya. Pada beberapa tempat seperti wilayah Kutai Timur dan Berau, Kalimantan Timur, bahkan ditemukan gua-gua yang digunakan khusus untuk mengekspresikan rasa seni dan kepercayaan mereka. Pada gua-gua itu banyak ditemukan lukisan dinding berupa: gambar tangan, binatang, pohon, ataupun lambang lainnya yang unik dan sangat menarik (Kosasih dan Prasetyo 1995/1996; Nasrudin 2003).

Persebaran budaya prasejarah di wilayah Kalimantan Selatan selama ini memang banyak ditemukan di gua-gua di pegunungan atau perbukitan karst di sekitar Pegunungan Meratus. Seperti diketahui, manusia prasejarah pada masa itu telah mengenal dan memanfaatkan gua dan ceruk payung sebagai tempat tinggal sementara. Berdasarkan data arkeologi yang didapatkan dari penelitian ekskavasi di situs Gua babi dan Gua Tengkorak (Kecamatan Muarauya, Kabupaten Tabalong), diketahui bahwa paling tidak sekitar 6.000 tahun yang lalu, Gua Babi telah dipakai oleh sekelompok manusia prasejarah yang mempunyai karakter budaya pre-neolitik. Karakter budaya ini dicirikan dengan suatu proses hunian manusia yang berkonteks dengan teknologi pre-neolitik sampai dengan perundagian. Manusia pendukung budaya ini mengembangkan teknologi pembuatan alat batu non-masif (alat serpih, bilah, serut, dan lancipan) dan alat tulang, yang bercampur dengan sisa-sisa model subsistensi mereka yang berupa moluska air tawar, sebagai salah satu sumber makanan pokok mereka. Suatu model kehidupan prasejarah yang umum ditemukan dalam komunitas hunian gua adalah pengumpulan moluska air tawar yang ditunjang oleh perburuan binatang kecil. Sementara itu, komponen gerabah dan alat-alat pembuatnya seperti batu pelandas dan batu giling menunjukkan karakter budaya tersendiri. Berdasarkan analisis terhadap teknik pembuatan dan penghiasan serta jenis hiasan yang diterapkan menunjukkan pada teknik pembuatan hand-made yang dipadukan dengan teknik roda putar lambat. Gabungan teknik hand-made dengan roda putar lambat ini berkembang secara pesat pada akhir periode pre-neolitik dan awal perundagian. Tradisi ini berpangkal pada tradisi gerabah Bau Melayu yang berkembang secara luas di Asia Tenggara, baik di kepulauan maupun di daratan (Widianto dan Handini 2003; 56).

Tampaknya budaya prasejarah tidak hanya berkembang di Gunung Batubuli saja, dari survei yang dilakukan Balai Arkeologi Banjarmasin di kawasan karst di Kabupaten Hulu Sungai Selatan didapatkan beberapa situs gua yang kemungkinan besar juga pernah dimanfaatkan sebagai hunian pada masa prasejarah (Wasita dkk 2004). Dan data yang paling baru adalah ditemukannya 3 buah gua hunian prasejarah di kawasan karst di Kecamatan Mentewe, Kabupaten Tanah Bumbu. Lokasi situs Mentewe ini tidak seperti situs Gua Babi dan Gua Tengkorak yang berada dalam satu gunung. Tetapi ketiga situs gua hunian itu terdapat pada gunung karst yang masing-masing berdiri sendiri dan terpisah jarak yang lumayan jauh. Hampir semua situs gua hunian prasejarah terdapat pada gugusan pegunungan atau perbukitan karst di jajaran Pegunungan Meratus. Tampaknya Pegunungan Meratus mempunyai kedudukan dan peran yang sangat penting dalam persebaran budaya prasejarah di wilayah Kalimantan Selatan. Hal ini bisa dibuktikan dengan ditemukannya situs hunian prasejarah di Gua Babi, dan situs kubur prasejarah di Gua Tengkorak. Kedua situs ini terdapat pada kawasan karst Gunung Batubuli, yang termasuk dalam gugusan karst yang ada di bagian utara Pegunungan Meratus. Sementara di bagian tengah Pegunungan Meratus, di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan juga ditemukan beberapa gua yang dicurigai menyimpan data hunian prasejarah, seprti Gua Janggrawi dan Gua Mandala. Dan agak lebih ke selatan timur, pada beberapa gugusan karst di wilayah Kecamatan Mentewe juga ditemukan gua-gua hunian prasejarah.

Penemuan situs-situs hunian prasejarah baru pada gugusan karst di sekitar Pegunungan Meratus ini menunjukkan adanya kecenderungan bahwa budaya prasejarah itu memang berkembang pesat pada lingkungan karst yang menyediakan banyak gua dan ceruk payung didalamnya. Apa yang sekarang sudah diketahui ini adalah merupakan awal dari proses penelusuran dan pengungkapan misteri kehidupan dan kebudayaan prasejarah yang pernah ada di wilayah Kalimantan Selatan. Masih banyak gugusan karst yang belum dikunjungi dan diketahui potensi budaya prasejarahnya. Yang jelas, keberadaan situs gua hunian prasejarah tersebut mempunyai peran penting dalam penelusuran sejarah kehidupan dan kebudayaan lokal, regional maupun nasional. Situs hunian tersebut paling menunjukkan adanya tempat atau lokasi berkembangnya satu budaya prasejarah tertentu. Secara kawasan, kemungkinan besar masih banyak gugusan karst lain di sekitar Pegunungan Meratus yang menyimpan potensi budaya prasejarah. Kecenderungan ini diperkuat dengan adanya satu hipotesa bahwa perkembangan budaya prasejarah di Kalimantan Selatan ini berasal dari jalur migrasi manusia dan budaya dari Jawa. Hipotesa ini muncul didasari oleh adanya temuan rangka manusia di Gua Tengkorak yang mengarah ke Ras Australomelanesid. Meskipun wilayah Kalimantan Selatan tidak masuk dalam jalur migrasi ras Australomelanesid pada awal Plestosen, tetapi percabangan migrasi tersebut tampaknya telah mampu menjangkau daerah ini dari daerah Indonesia bagian Barat dan Selatan, dengan kemampuan menyeberangi laut yang cukup luas. Untuk diketahui jalur utama migrasi ras Australomelanesid dari Asia Tenggara Daratan adalah melalui Semenanjung Malaysia, Sumatra, Jawa, terus ke timur melalui Bali dan Nusa Tenggara.

D. Penutup
Dari analisis dan pengamatan yang dilakukan pada sekitar 143 buah koleksi prasejarah yang ada di Museum Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan, dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Keterangan tempat asal artefak koleksi prasejarah yang ada tidak langsung menunjuk situs atau lokasi penemuannya, tetapi pada umumnya merupakan alamat si penyimpan benda sebelum dihibahkan pada Museum. Keterangan asal koleksi akan lebih bermanfaat jika memang menunjuk pada lokasi ditemukannya benda tersebut, misalnya dari sebuah undak sungai, atau gua, sehingga dapat ditelusuri lebih lanjut melalui kegiatan survei dan ekskavasi.
- Dengan demikian distribusi persebaran budaya prasejarah tidak secara langsung ditunjukkan oleh lokasi asal koleksi yang ada. Dan persebaran budaya prasejarah di wilayah Kalimantan Selatan tetap harus dicari pada kawasan karst di sekitar Pegunungan Meratus yang membujur Utara Selatan.
- Secara umum, hanya beberapa wilayah saja yang bisa direkomendasikan sebagai lokasi yang patut diperhatikan karena memang berada pada kawasan karst yang dimaksud, seperti wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Tapin, Tabalong, Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kotabaru.
- Persebaran situs gua hunian seperti tersebut di atas, menunjukkan adanya perkembangan budaya prasejarah yang masih belum diketahui darimana awalnya? Jika dihubungkan dengan migrasi ras Australomelanesid, kemungkinan besar berasal dari wilayah Jawa sebagai salah satu cabang migrasi yang bergerak menyeberangi laut menuju ke Kalimantan bagian Selatan. Sementara itu, data yang menjelaskan adanya hubungan antara Pegunungan Meratus dengan Pegunungan Rembang tampaknya masih belum diketahui sampai tulisan ini dibuat.

Daftar Pustaka

Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional Indonesia Jilid I. Jakarta: PN. Balai Pustaka.

Wasita, Hartatik, dan Gunadi. 2004. Penelitian Eksploratif Gua-gua Prasejarah di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Laporan Penelitian Arkeologi. Banjarbaru : Balai Arkeologi Banjarmasin. Belum diterbitkan.

Kosasih, E.A. dan Bagyo Prasetyo. 1995/1996. Survei Gua-gua Prasejarah Di Pegunungan Muller, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur. Laporan Penelitian Arkeologi. Banjarmasin : Balai Arkeologi Banjarmasin. Belum diterbitkan.

Nasrudin. 2003. Potensi Situs Gua-Gua Hunian dan Temuan Tanda Tangan Prasejarah di Kawasan Pegunungan Marang, Kalimantan Timur. Laporan Penelitian Arkeologi Kerjasama
Penelitian Asisten Deputi Urusan Arkeologi Nasional dan CREDO-CNRS, Maison Asie-
Pasifique, Marseille France. Belum diterbitkan.

Sugiyanto, Bambang. 2001. Penelitian Gua Prasejarah di Kecamatan Muarauya, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Laporan Penelitian Arkeologi. Banjarbaru : Balai Arkeologi Banjarmasin. Belum diterbitkan.

Sugiyanto, Bambang dan Wasita. 2002. Laporan Analisis Koleksi Prasejarah Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Belum diterbitkan.

Widianto, Harry, Truman Simanjuntak, dan Budianto Toha 1997. Ekskavasi Situs Gua Babi, Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan. Berita Penelitian Arkeologi No. 01. Banjarmasin : Balai Arkeologi Banjarmasin.

Widianto, Harry dan Retno Handini 2003. Karakter Budaya Prasejarah Di Kawasan Gunung Batubuli, Kalimantan Selatan: Mekanisme Hunian Gua Pasca-Plestosen. Berita Penelitian Arkeologi No. 12. Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin.

MEMPOSISIKAN MASYARAKAT SEBAGAI GARDA DEPAN PELESTARI SUMBER DAYA ARKEOLOGI

Wasita

Abstrak

Warisan purbakala yang banyak merupakan tantangan bagi arkeolog untuk dapat melestarikannya (dengan baik). Pelestarian adalah pekerjaan yang tidak ada batas waktunya utnuk diselesaikan. Karena banyaknya warisan budaya di indonesia maka pelibatan masyarakat adalah cara paling murah (yang bisa adilakukan). Tetapi upaya tersebut tidak mudah. Inovasi dalam strategi harus terus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarkat tentang arti penting warisan budaya sehingga masyarakat menjadi kekuatan paling dasyat yang dapat diandalkan untuk menjadi instrumen pelestari warisan budya.

Abstract

Many Cultural heritages were challenge for archaeologist to conservation. Conservation was working no time limit to finish. Because many cultural heritage in Indonesia so involving societies is cheaper manner But, that effort is not essay. Innovation in method have to continuous for increase of societies awareness about importance value of heritage culture so they will be a stronger terrifying can be rely on for as instrument a conservation.

Kata kunci: masyarakat, pelestarian, sumberdaya arkeologi

A. Pendahuluan
Masyarakat merupakan kekuatan paling dahsyat yang kita miliki yang dapat dimanfaatkan untuk berama-sama turut menjaga keutuhan dan kelestarian benda cagar budaya. Ia menempati setiap ruang dan lapisan di Republik ini. Oleh karena itu, kekuatan yang dimiliki olehnya sangat strategis untuk turut mengamankan sumberdaya arkeologi (SDA). Permasalahanya, bagaimana kita mampu/dapat membangkitkan kekuatan tersebut dan memanfaatkannya untuk pelestarian dan pengamanan?

Nurhadi dalam tulisannya yang berjudul "Penelitian Arkeologi dari GBHN ke GBHN" (2000: 264-265) menyitir pemikiran Bung Karno yang menyinggung tentang hasil penelitian ilmiah baru akan memiliki makna apabila dapat dimanfaatkan dan memberikan dampak positif bagi kehidupan umat manusia. Ia menyebutkan bahwa penelitian arkeologi harus mampu memberikan akuntabilitas publik tanpa mengesampingkan akuntabilitas akademiknya. Pemikiran yang demikian ini menuntut kita untuk dapat bekerja yang memiliki dampak yang baik untuk kepentingan masyarakat dan Bangsa Indonesia.

Di sisi lain, pemahaman masyarakat terhadap arkeologi masih cukup beragam. Ada sebagian masyarakat yang antipati dengan tinggalan masa kolonial, karena hal tersebut dianggap merupakan bukti kekuatan bangsa asing dalam melakukan penindasan di Indonesia, sehingga bukti tersebut tidak perlu dilestarikan. Sementara sebagian masyarakat berpandangan demikian, di pihak lain kiprah arkeologi masih cenderung hanya bergerak dalam ruang lingkup profesionalisme yang terbatas. Oleh karena itu Kosasih mengusulkan agar dalam era pembangunan dewasa ini perlu adanya pengembangan visi bagi dunia arkeologi di Indonesia. Pengembangan visi yang dimaksud adalah dengan mencanangkan perspektif yang lebih luas tentang peranan dan fungsi arkeologi dalam pembangunan nasional, agar arkeologi dapat lebih bermakna bagi kehidupan bermasyarakat (Kosasih, 2000:202) bahkan juga berbangsa dan bernegara.

Ternyata upaya untuk dapat menyentuh masyarakat dalam tataran yang lebih luas guna memberikan kontribusinya saja masih merupakan suatu masalah. Jika demikian halnya, maka keinginan untuk melibatkan masyarakat menjadi garda depan pelestari (SDA) akan mendapat cibiran dari mereka. Oleh karena itu, keinginan untuk dapat memposisikan masyarakat sebagai pelestari perlu kerja keras para arkeolog. Dan, untuk mewujudkannya apa yang harus dilakukan? Langkah apa saja yang harus ditempuh? Dimulai dari mana langkah tersebut? Berapa lama waktu yang dibutuhkan? Apa kendalanya dan, bagaimana mengatasinya?

B. Masyarakat dan Sumber Daya Arkeologi di Indonesia
Keberadaan Benda Cagar Budaya (BCB) atau Sumber Daya Arkeologi (SDA) ada yang jauh dari permukiman masyarkat tetapi ada juga yang berada di tengah-tengah masyarakat. BCB yang berada jauh dari permukiman umumnya karena merupakan tinggalan dari jaman pleistosen dan holosin yang keberadaannya air laut tidak sesurut sekarang ini sehingga yang dahulu ada di dekat laut kini menjadi berada di sebuah lereng bukit/gunung yang tinggi dan terjal. Karena kondisi sekarang telah terjadi pencairan es dan surutnya permukaan air laut, menjadikan posisi permukiman manusia prasejarah yang dahulu ada di dekat laut kini berubah menjadi suatu daerah yang terpencil dan jauh dari laut. Kondisi ini akan menjadikan manusia yang hidup kemudian kurang memilih tempat tersebut untuk dijadikan sebagai tempat tinggal. Sehingga daerah situs tersebut menjadi berada jauh dari permukiman masyarakat sekarang. Contoh untuk situs ini antara lain, situs prasejarah di Gunung Marang, Kalimantan Timur yang berada jauh di tengah hutan Kabupaten Kutaitimur, dan sebagian Berau, Kalimantan Timur

Sedangkan situs yang berada di tengah-tengah masyarakat dewasa ini karena umumnya BCB tersebut merupakan bagian dari sejarah nenek moyangnya yang terpaut tidak telalu jauh. Selanjutnya generasi penerusnya akan melanjutkan kehidupan mereka di lokasi yang dahulu dijadikan sebagai tempat nenek moyangnya bermukim. Oleh karena itu, BCB dari nenek moyangnya tidak akan jauh dari permukiman generasi penerusnya. Contoh situs situs yang demkian ini adalah situs-situs di perkampungan Dayak, situs Islam, dan bahkan kolonial.

1. Beberapa Contoh SDA yang Telah Ditangani
Beberapa situs monumental yang besar di Jawa banyak yang telah ditangani sehingga tertata dengan rapi. Hal ini dapat kita lihat pada Candi Borobudur, Prambanan, Ratu Boko, dan mungkin masih ada yang lain lagi. Situs ini cukup terjaga, bahkan untuk Candi Borobudur ada sekelompok masyarakat yang juga turut memanfaatkan candi untuk kepentingan kelompok mereka. Memang ada dilema dalam hal ini. Dimana candi yang dahulu ditemukan dalam kondisi sebagai dead monument, maka kini ada sekelompok masyarakat yang kembali memanfaatkan candi untuk kepentingan ritual mereka. Dalam aturan UU Kepurbakalaan yang ada di Republik ini mestinya hal tersebut tidak diperbolehkan. Akan tetapi kenyataanya hal tersebut masih saja terus berlangsung hingga dewasa ini.

Ada dua hal yang sangat bertentangan dalam hal ini. Pertama, pola pemanfaatan kembali atas dead monument menjadi living monument adalah tindakan yang tidak diperbolehkan. Kedua, ada manfaat yang selama ini diperoleh atas dipergunakannya candi dan kawasan tersebut untuk kegiatan sekelompok masyarakat, yaitu ada kekuatan sekelompok masyarakat yang turut menjaga keutuhan candi karena menyangkut kepentingan mereka.

Memang sudah sepantasnya aturan untuk tetap kita tegakan dan upaya pelestarian tetap kita jalankan. Dua-duanya harus tetap seiring. Aturan tidak memberi peluang untuk menghidupkan dead monument karena pada prisipnya beberapa tinggalan masa lalu kita harus kita sadari bahwa hal tersebut merupakan bagian dari kegiatan nenek moyang yang untuk sekarang ini sudah tidak mendapat pengakuan dalam kehidupan keberagamaan di Indonesia. Contoh kepercayaan animisme dan dinamisme yang menyembah benda mati dan benda hidup yang ada di sekitarnya. Karena menghidupkan kembali dead monument, misal penyembahan batu besar atau arca menhir di Gunungkidul yang dahulu dilakukan oleh nenek moyang dan ditemukan dalam keadaan tidak dipergunakan lagi, maka hal tersebut tidak diperkenankan. Berkaitana dengan pernyataan tidak diperkenankannya menghidupkan kembaali dead monument menjadi living monument, maka yang demikian ini rasanya terjadi juga pada situs Candi Borobudur.

Tidak hanya itu, di Sangiran juga banyak kita jumpai beberapa orang yang justru beraktivitas melakukan pencarian fosil untuk diperdagangkan. Hal ini jelas sangat bertentangan dengan upaya pelestarian. Sangiran sebenarnya merupakan situs besar dan di tempat tersebut juga berdiri sebuah kantor yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) untuk menangani situs tersebut karena Sangiran merupakan salah satu situs warisan dunia yang harus dilestarikan. Sangiran yang merupakan salah satu bukti sejarah perjalanan hidup manusia ternyata mendapat banyak perhatian masyarakat yang tidak hanya untuk menjaga keutuhan tinggalan yang ada di dalamnya, tetapi juga ada sebagian yang justru ingin mencari keuntungan dari situs tersebut dengan cara yang tidak benar. Upaya-upaya penjualan temuan fosil oleh masyarakat perlu mendapat perhatian untuk segera ditangani.

Sementara itu perilaku masyarakat sekitar Sangiran yang umumnya berubah dengan banyak ditemukannya fosil dan beberapa kelompok atau oknum ternyata mencoba mencari peluang untuk memperoleh fosil tersebut dari masyarakat. Bahkan masyarakat mulai mengenal adanya insentif atas penemuan fosil, telah ada atau terjadi sejak masa –masa penelitian Von Koenigswal, tahun 1934-1936 (Sulistyanto, 1995). Memang perubahan perilaku masyarakat tidak hanya karena pendirian museum di sana. Menurut Bambang Sulistyanto (2001:223) paling tidak ada beberapa hal yang menjadikan perubahan perilaku tersebut yaitu antara lain: perubahan gaya hidup, tersedianya fasilitas umum, munculnya sindikat fosil, kemampuan memalsu fosil, fosil sebagai barang komoditi, terbukanya lapangan pekerjaan, alih mata pencaharian, peningkatan kesejahteraan dan pergeseran peranan ibu.

Memang upaya pelestarian sangat bagus jika bisa melibatkan masyarakat. Hanya saja tidak harus melibatkan atau membentuk sekelompok masyarakat untuk kembali memanfaatkan dead monument manjadi living monument agar mereka selain memanfatkan sekaligus menjadi garda depan dalam pelestariannya. Pelibatan masyarakat untuk pelestarian mestinya dilakukan dengan menanamkan kesadaran mereka akan warisan leluhur yang harus dihargai, diteladani nilia-nilai luhurnya, dan dijadikan kebanggaan warisan sejarah dan kebudayaan nenek moyang kita untuk dijadian sebagai bagian dari identitas kebangsaan kita

2. Beberapa Contoh SDA yang Belum Ditangani
Sumberdaya arkeologi yang belum ditangai dan bahkan benda/situs tersebut mendapatkan perlakuan yang bersifat merusak juga cukup banyak kita temui. Kawasan Situs Gua Babi merupakan salah satu contoh yang ada di Kalimantan. Situs ini merupakan situs hunian prasejarah yang cukup lengkap yang pernah ditemukan di Kalimantan. Penelitian yang pernah dilakukan oleh Balai Arkeologi Banjarmasin yang tertuang dalam Laporan Penelitian Arkeologi (LPA) dan Berita Penelitian Arkeologi (BPA), pada prisnsipnya disebutkan bahwa kawasan situs Gua Babi merupakan situs prasejarah dengan potensi yang cukup besar, temuanya meliputi peralatan mecari makan, alat batu dan tulang, alat dapur (gerabah), sisa makanan (cangkang moluska), perhiasan, dan tulang manusia (kubur) (Widianto dkk, 1997; Widianto dan Retno Handini, 1998/99; dan 2003).

Intensitas penelitian yang cukup sering dilaksanakan dan tidak sepadan dengan penyuluhan yang dilakukan ternyata membawa persepsi yang salah di masyarakat. Buktinya, ketika penelitian tersebut usai dan selanjutnya berhenti dalam beberapa tahun, ternyata pada tahun 2002 diketahui masyarakat telah melakukan penggalian ulang pada situs tersebut. Penggalian ulang dilakukan persis pada kota-kotak gali yang dahulu pernah diekskavasi dalam penelitian arkeologi. Penggalian ulang oleh masyarakat tersebut didorong oleh keingintahuan mereka akan isi kotak gali tersebut. Perlakuan “istimewa” terhadap kotak gali yang ditutup /diurug lagi dengan dilapisi plastik pada dasar kotaknya tersebut justru menimbulkan keingintahuan mereka yang besar. Karena tidak ada informasi yang disampaikan ke masyarakat, maka mereka berusaha mendapatkan sendiri informasi yang mereka inginkan tersebut dan dengan cara mereka sendiri, yaitu dengan cara membongkar ulang kotak tersebut untuk dapat melihat langsung apa yan ada di dalamnya.

Sementara itu penggalian juga dilakukan pada beberapa gua yang sebelumnya belum dilakukan penelitian. Penggalian pada gua yang demikian ini dimaksudkan untuk mencari guano untuk pupuk sehingga hasil panen sawah dan ladang mereka meningkat. Dan, penggalian ini ternyata juga cukup merusak karena mereka tidak saja menghabiskan guano yang ada pada lapisan gua yang mereka gali, tetapi juga melanjutkan penggaliannya hingga ke lapisan budayanya.

Memang situs ini belum ditangani dalam tataran yang intensif. Oleh karena itu, pengamanan saat itu diserahkan ke juru pelihara yang tinggal di kampung tersebut. Ketika tata organisasi di departemen yang menaungi bagian kebudayaan saat itu mengalami perubahan, maka keberadaan juru pelihara di daaerah tidak terakomodir. Oleh karena itu, secara tiba-tiba mereka tidak memperoleh gaji. Dalam kondisi ini mereka (termasuk juru pelihara situs Gua Babi) mengalihkan pekerjaannya ke ke bidang lain. Dengan demikian efektivitas kerja juru pelihara sudah tidak ada lagi. Pada saat tersebut masyarakat mulai melihat potensi batu gunung sebagai aset yang dapat dijual. Oleh karena itu, sebagian masyarakat mulai manambang batu untuk dijual. Kini penambangan tersebut makin meluas. Tidak hanya di kawasan Gua Babi, tetapi juga di daerah lain. Dan, tidak jarang merusak gua-gua yang dahulu merupakan situs arkeologi (Sugiyanto, 2002).

Memang, gua-gua ini umumnya ada di luar permukiman. Namun demikian bukan berarti bahwa situs–situs yang ada di tengah–tengah perkampungan akan aman dari jarahan tangan jahil. Baluntang yang digunakan sebagai salah satu kelengkapan upacara kematian penganut kaharingan keberadaanya juga ditengah-tengah kampung mereka sendiri. Yang demikian ini pun banyak yang hilang. Entah dicuri orang, entah dijual oleh pemiliknya sendiri. Meskipun kita belum dapat membuktikan, yang jelas kerusakan terjadi baik pada situs/benda arkeologi yang ada di tengah-tanegah permukiman maupun yang jauh dari permukiman, yang sudah mendapat penanganan intensif (Sangiran), yang sekedar dijaga oleh juru pelihara (Gua Babi), atau pun yang dijaga para pewarisnya sendiri (misal, baluntang). Demikialah kurang lebih gambaran kondisi masyarakat dan benda/situs arkeologi di Indonesia.

C. Menjadikan Masyarakat sebagai Garda Depan Pelestari SDA
1. Penyuluhan Hukum
Ini merupakan aspek paling mendasar yang harus segera dipahami oleh masyarakat. Dengan bekal pengetahuan dan pemahaman hukum yang memadai diharapkan masyarakat akan tergerak kemauannya untuk dapat menyadari posisinya jika mereka menemukan benda purbakala. Bukan aspek hukum saja yang dijadikan sebagai pendorong kuat untuk turut mengamankan BCB, tetapi lebih dari itu aspek pemanfaatan BCB untuk bukti sejarah perjalanan bangsa, keunggulan budaya nenek moyang, dan jua pembelajaran. Kerangka besar inilah yang harus ditanamkan, karena hanya dengan memahami manfaat yang dapat diperoleh dalam jangka panjanglah yang akan mendorong manusia tergerak, dan mengesampingkan manfaat sesaat dan pribadi. Untuk mewujudkan ini jelas suatu kerja keras yang panjang. Tidak mungkin, sekali ceramah akan mengahasilkan masyarakat yang langsung sadar, sesadar-sadarnya. Pengawasan harus tetap ada. Oleh karena itu, aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah pembentukan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Kebudayaan (PPNS Kebudayaan) yang akan mengefektifkan perhatiannya pada kerja pegawai negeri dan keamanan tinggalan budaya. Konsekuensinya PPNS kebudayaan tersebut harus dibentuk dalam jumlah yang memadai dengan jumlah situs yang perlu diamankan.

2. Situs sebagai Bagian dari Kepentingan Masyarakat
Ini adalah impian yang cukup banyak tantangannya. Beberapa situs yang telah dikelola dengan intensif pun belum dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat apalagi yang belum dikelola. Pelestarian dan pengembangan Situs Ratu Boko yang berlangsung selama ini mengalami berbagai kendala. Upaya maksimal yang telah dilakukan tidak membawa hasil yang sepadan. Masyarakat sekitar Situs Ratu Boko merasa belum dapat memperoleh manfaat
optimal dari upaya pelestarian dan pengembangan yang telah dilakukan (Hartono, 2004).

Berbeda halnya dengan yang terjadi di Sangiran. Pemerintah justru seringkali dinilai lupa mengikutsertakan masyarakat setempat dalam proses pengambilan keputusan dan tidak mau tahu kenyataan adanya perbedaan persepsi dalam memberi makna cagar budaya. Upaya pelestarian di Situs Sangiran lebih banyak dilakukan dengan cara penegakan hukum semata, tanpa ada niat untuk mencari solusi yang menohok langsung ke akar permasalahannya. (Sulistyanto, 2003).

Saya rasa tidak ada cara lain bahwa untuk menjadikan masyarakat merasa memiliki dan akhirnya dapat dilibatkan dalam pelestarian, maka situs dan benda arkeologi harus dijadikan sebagai bagian dari kepentingan masyarakat setempat. Bagian dari kepentingan masyarakat yang mesti disentuh adalah ekonomi, ikatan emosional, pendidikan dan kebanggaan warisan leluhur. Di samping itu yang juga perlu dibangkitkan adalah kesadaran masyarakat akan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 5 tahun 1992 tentang BCB untuk dapat dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan dalam kaitannya dengan interaksi mereka dengan benda-benda BCB.

Bidang ekonomi yang dapat melibatkan masyarakat antara lain menjadikan masyarakat sebagai bagian dari kegiatan ekonomi situs. Misalnya membimbing mereka untuk dapat berusaha dibidang yang terkait dengan situs misalnya industri kerajinan, pemandu wisata, penginapan, dll. Upaya-upaya tersebut perlu dilakukan dengan pembimbingan pemerintah. Dan, yang tidak kalah penting adalah upaya tersebut harus mendahulukan masyarakat sekitar untuk dapat mengambil perannya, daripada memberi peluang kepada pemodal besar dari luar. Di samping itu, pekerja-pekjerja di bidang pariwisata dengan objek tersebut juga perlu melibatkan orang dari sekitar objek tersebut.

Kegiatan-kegiatan wisata ziarah misalnya juga perlu diberikan masukan dari pihak kepurbakalaan. Masukan tersebut perlu disampaikan dalam hal cerita sejarah dan nilai kepurbakalaannya. Informasi tersebut tidak saja disampaikan melalui pemandu wisatanya tetapi perlu juga disampaikan dalam bentuk tulisan seperti leaflet yang disebarkan secara luas di area wisata ziarah. Ini sangat penting untuk mengarahkan para peziarah agar dalam ziarahnya dilakukan dengan benar dan unsur penghargaan kepada warisan sejarah dan nilai luhurnya dapat teraih di sini.

3. Masyarakat Sebagai Bagian dari Pengelola
Masyarakat perlu dilibatkan menjadi salah satu unsur pengelola situs apalagi jika situs tersebut dijadikan sebagai objek wisata. Tentu masyarakat sudah harus dilibatkan sejak awal perintisannya. Kasus di Sangiran misalnya, pelibatan msyarakat untuk pelestarian situs sebenarnya sudah dimulai sejak awal. Dalam pengumpulan fosil/koleksi museum, masyarakat yang menemukan dimohon untuk menyerahkan ke museum dengan ganti rugi. Ini suatu niat baik dari pemerintah (museum) yang cukup terpuji. Hanya saja dalam pelaksanaannya di lapangan tidak jarang masyarakat yang menemukan fosil umumnya akan menyerahkan temuannya yang berujud fragmentaris. Sementara temuan yang relatif utuh akan disimpan untuk dicarikan pembeli yang bersedia merogoh kocek yang lebih besar daripada ganti rugi dari museum (Sulistyanto, 1995: 54) dan bahkan ada yang dibuat benda kerajinan untuk meningkatkan nilai jual benda tersebut (Sulistyanto, 1996: 35).

Jika sudah siap maka situs atau pun museum dapat segera dibuka untuk umum dan menjadi objek wisata. Keberhasilan arkeolog dalam mewujudkan peninggalan purbakala menjadi objek pariwisata akan memberi dampak yang cukup luas kepada masyarakat. Sebagaimana dapat ditunjukkan di berbagai tempat tujuan wisata, kesejahteraan masyarakat bersangkutan jelas meningkat dengan berkembangnya kemampuan masyarakat untuk menambah penghasilan, misalnya lewat ketrampilan pembuatan benda-benda souvenir serta dalam melakukan pelayanan dan jasa wisata lainnya (Soebadio, 1993/1994:5). Akan lebih terasa lagi kedekatan masyarakat dan instansi yang menaungi kepurbakalan tersebut jika para arkeolog juga memberikan bimbingan atau konsultasi gratis kepada masyarakat dalam hal kecakapan menjadi pemandu wisata, model-model souvenir dan lain-lain.

Sebenarnya langkah-langkah pengembangan Borobudur melalui penataan kawasan termasuk pembangunan Pasar Seni Jagad Jawa (PSJJ) dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dan kepentingan Pemerintah Daerah Jawa Tengah. Maka dapat dipahami bila rencana ini dianggap memiliki nilai strategis dan ekonomi, sekaligus merupakan skenario pengembangan industri wisata yang tidak terlepas dari pertimbangan investasi dan bisnis. Hal ini sejalan dengan yang dilakukan oleh Bank Dunia dalam memberikan hibah dan bantuan teknis untuk penyelamatan objek arkeologis kawasan bersejarah yang dikembangkan untuk wisata adalah lebih mengutamakan pemberdayaan masyarakat setempat. Pelibatan komunitas sendiri diawali sejak gagasan muncul melalui proses penyerapan keinginan ideal masyarakat, baik dalam penyusunan program hingga diwujudkan melalui tindakan realistis (Koeswhoro, 2003).

Ada baiknya pemerintah dengan berbagai dinas yang menaunginya perlu turun tangan untuk turut membina masyarakat agar dapat mengambil peran dalam kaitannya telah terbentuknya objek wisata tersebut. Pemerintah mestinya berpihak pada masyarakat sekitar dan tidak pada pemodal besar untuk memberi peluang bisnis di sekitar objek wisata tersebut (misal Borobudur). Yang demikian ini akan menjadikan masyarakat benar-benar merasa memperoleh tempat dan merasa dilibatkan untuk pengembangannya.

4. Pembelajaran
Hal yang lebih baik lagi tentunya adalah manfaat pembelajaran yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Objek tinggalan yang masih terkait dengan masyarakat akan sangat berguna jika kebijakan pembangunan maupun pemberdayaan masyarakat pada umumnya berdasarkan permasalahan yang ada dan terjadi di masyarakat tersebut. Tentu akan sangat dekat persamaan dan stragtegi yang dipergunakan jika pengembangan masyarakat dilakukan di sebuah perkampungan yang masih melanjutkan budaya nenek moyangnya. Jika mereka memanfaatkan kearifan, nilai-nilai luhur, dan ajaran moral yang terpuji dari pendahulu mereka tentu ini merupakan trategi yang sangat baik untuk sukseksnya pemberdayaan. Terlebih lagi permasalahan yang muncul di perkampungan tersebut tentu sangat spesifik dan mungkin sekali dapat diselesaikan dengan mendasarkan pada nilai-nilai yang terkandung dalam tinggalan tradisi di kampung tersebut.

D. Kendala dan Antisipasinya
Kendala utama dalam program jangka panjang ini adalah jangka waktu untuk mengubah pandangan masyarakat dan juga kemungkinan untuk dapat mengakomodir kepentingan dari beberapa pihak. Alokasi waku yang diperlukan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang benda dan situs purbakala serta perlindungannya yang pelaksanaannya bukan merupakan sesuatu yang dapat dilakukan bak membalik telapak tangan. Peyuluhan yang terus-menerus tidak mesti menghasilkan manfaat yang signifikan. Tingginya tingkat pendidikan tidak berkorelasi positif dengan perilaku (Surakhmad, 1908), oleh karena itu yang lebih penting dalam hal ini adalah niat baik setiap individu, bukan intelektualitasnya.

Sementara itu yang berkaitan dengan kepentingan adalah suatu yang abadi dalam setiap urusan manusia. Berbagai kelompok masyarakat yang terlibat dalam urusan penanganan warisan purbakala dan juga kawasannya juga memiliki kepentingan yang berbeda. Suatu contoh dalam pengelolaan kawasan kasrt di Ponjong, Gunugkidul, permasalahannya lebih banyak disebabkan karena perbedaan persepsi dalam pemanfaatan sumberdayanya. Di satu pihak, terdapat ahli pertanian (akademia), beberapa orang penduduk, dan investor pertambangan yang melihat gua-gua arkeologis mempunyai potensi tinggi untuk menyediakan bahan galian yang akan menguntungkan secara finansial atau ekonomi. Namun, di pihak lain terdapat ahli arkeologi (akademia), kebanyakan masyarakat, dan berbagai lembaga pemerintah yang melihat potensi gua-gua tersebut bukan dari kandungan bahan galian. Kebanyakan masyarakat dan pihak pemerintah (Dinas Pariwisata, Kecamatan, dan Kelurahan) lebih melihat potensi gua itu dari kemungkinannya untuk dipakai sebagai tempat wisata, yang menarik kalau tetap asli, asri dan lestari. Sementara itu, pihak arkeologi dan Bappeda cenderung melihat kebutuhan akan terlestarikannya kawasan karst secara keseluruhan. Apalagi daerah Ponjong adalah kawasan resapan atau tangkapan air bagi sungai-sungai bawah tanah di bagian hilirnya. Jadi, faktor kebutuhan yang berbeda menyebabkan munculnya konflik kepentingan dalam pengelolaan gua-gua. Dalam kaitannya dengan hal tersebut di atas, maka untuk selanjutnya perlu dibuat sebuah model pengelolaan sumberdaya budaya Pertama, untuk dapat mengembangkan pengelolaan sumberdaya budaya dengan sasaran terlestarikannya gua-gua arkeologis, sektor budaya tidak dapat melakukannya sendiri. Kegiatan ini harus melibatkan berbagai pihak yang peduli dan terlibat dalam aspek-aspek pelestarian kawasan. Sejak awal, masyarakat setempat harus diikutkan dalam pengambilan keputusan, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaannya. Kedua, untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan pokok, perlu dicarikan substitusi matapencaharian hidup, khususnya bagi tenaga kerja yang selama ini terlibat dalam penambangan bahan galian. Selanjutnya perlu dipertimbangkan untuk menemukan “leading sector” yang akan menjadi ujung tombak dalam proses pelestarian kawasan dengan pengelolaan sumberdaya budaya sebagai bagian darinya (Yuwono.2006)

E. Penutup
Upaya pelestarian dengan melibatkan masyarakat adalah ide yang cukup strategis. Hanya saja hal tersebut memang membutuhkan kerja keras. Dan, tidak ada jaminan dalam tempo yang singkat hal tersebut akan dirasakan hasilnya. Pekerjaan ini harus melalui proses yang panjang dan secara terus-menerus dilakukan. Tidak menutup kemungkinan adanya inovasi cara dan metode untuk mempermudah dan mempercepat tercapainya keinginan tersebut.

Terlebih lagi dalam suasana kehidupan ekonomi yang kurang begitu baik di negeri ini. Kondisi ini besar pengaruhnya terhadap perhatian dan penghargaan masyarakat terhadap warisan sejarah dan purbakala. Pada saat masyarakat cenderung mengkonsentrasikan perhatiannya pada upaya untuk memenuhi kebutuhan primer mereka, tentunya urusan yang menyangkut warisan purbakala akan kurang mereka perhatikan. Masalahnya sangat praktis, jika mengurusi hal tersebut tentu akan sulit untuk segera memperoleh nasi untuk kebutuhan primernya.

Memang, pariwisata dengan objek benda purbakala juga akan mendatangkan dampak positif bagi masyarakat. Hanya saja hal ini tidak akan datang dalam proses yang cepat. Di sisi lain kebutuhan perut memaksa setiap hari untuk diisi. Sangat logis jika masyarakat akan mengerjakan sesuatu yang langsung didapatkan hasilnya. Misalnya seperti yang dilakakan oleh sebagian msyarakat Sangiran dan bukti banyaknya baluntang yang hilang walaupun keberadaanya ada di tengah-tengah perkampungan yang mereka huni.

Pada dasarnya semua itu bukanlah masalah besar. Yang penting upaya untuk pelestarian harus terus dijalankan dan masyarakat terus dilibatkan untuk itu, seberapa besar peran yang bisa mereka ambil. Karena hanya dengan cara ini masyarakat akan mengalami sendiri prosesnya sehingga jika sudah sampai pada saatnya nanti mereka akan lebih menghayati nilai penting warisan purbakala yang ada di lingkungan mereka.

Yakinlah jika warisan purbakala sudah siap menjadi objek wisata, maka masyarakat akan menaruh perhatian padanya untuk dapat memperoleh rejeki atas keberadaan objek wisata tersebut. Pada saat inilah kita dapat masuk lebih intensif lagi. Tidak hanya memberikan bimbingan secara ekonomis saja, tetapi juga kepurbakalaan dan nilai-nilai di dalamnya. Hal ini perlu mereka pahami untuk dapat diterapkan dalam kaitannya dengan usaha mereka baik dalam bidang souvenir, hingga asesoris dalam rumah makan, penginapan dan lain-lain. Masyarakat perlu didorong untuk menonjolkan identitas warisan budaya yang ada di lingkungannya guna dijadikan sebagai hal unik yang tidak dapat dijumpai di tempat lain. Dengan demikian diharapkan turis akan merasa mendapatkan sesuatu yang unik di lingkungan mereka. Tidak saja unik dalam hal kepurbakalaan tetapi juga warisan leluhur yang masih diimplementasikan masyarakat dalam hal asesoris misalnya.

Pustaka

Hartono, Tri. 2004. Pengelolaan Sumber Daya Arkeologi: Pelestarian Dan Pengembangan Situs Ratu Boko. Thesis. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Koeswhoro, Pudjo. 2003. Kontroversi Jagad Jawa Borobudur. Suara Merdeka 11 Januari 2003. Semarang

Kosasih, EA. 2000. Pemahaman Masyarakat Terhadap Arkeologi Indonesia: Antara harapan dan Kenyataan. Proceedings Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi: Jakarta: Pusat Arkeologi. Hlm. 203-228.

Nurhadi. 2000. Penelitian Arkeologi dari GBHN ke GBHN. Proceedings Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Arkeologi. Hlm. 264-276

Soebadio, Haryati. 1993/94. Arkeologi dan Pengembangan Sosial Budaya. Pertemuan Ilmiah Arkeologi VI. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Hlm. 3-14.

Sugiyanto, Bambang. 2002. Penelitian Gua Prasejarah di Kecamatan Muara Uya, Kabupaten Tabalong, Kalsel. Laporan Penelitian Arkeologi. Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin. Belum Terbit.


Sulistyanto, Bambang. 1995. Perilaku Masyarakat terhadap Benda Cagar Budaya Sangiran: Studi kasus di Desa Krikilan. Berkala Arkeologi Tahun XV No. 1. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Hlm. 46-63.

_______________ . 1996. Perubahan Sosial di Kawasan Benda Cagar Budaya Sangiran: Studi kasus tentang perubahan perilaku. Berkala Arkeologi Tahun XVI No. 2. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Hlm. 28-41.

_______________ .2001. Perubahan Nilai Magis Fosil Kawasan Sangiran. Proceedings Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Arkeologi. Hlm. 207-229.

_______________ . 2003. Balung Buto: Warisan Budaya Dunia dalam Perspektif Masyarakat Sangiran. Yogyakarta: Kunci Ilmu.

Surakhmad, Winarno. 1980. Mewujudkan Nilai-Nilai Hidup Dalam Tingkah Laku Sebuah Ikhtisar Pedoman Pendekatan Metodologik. Bandung: Tarsito.

Widianto, Harry, Truman Simanjuntak, dan Budianto Hakim. 1997. Ekskavasi Situs Gua Babi, Kabupaten Tabalong, Propinsi Kalimantan Selatan. Berita Penelitian Arkeologi No. 01. Banjarmasin: Balai Arkeologi Banjarmasin.

Widianto, Harry, dan Retno Handini. 1998/99. Penelitian Situs Gua Babi Tahap III dan IV Kecamatan Muara Uya, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Laporan Penelitian Arkeologi. Banjarmasin: Balai Arkeologi Banjarmasin.

_________________________. 2003. Karakter Budaya Prasejarah di Kawasan Gunung Batubuli, Kalimantan Selatan: Mekanisme Hunian Gua Pasca Pleistosen. Berita Penelitian Arkeologi No. 12. Banjarmasin: Balai Arkeologi banjarmasin.

Yuwono, J Susetyo. 2006. Peran Stakeholders Dalam Pengelolaan Sumberdaya Arkeologi, Makalah Cultural Resource Management di Yogyakarta.